“ Pada Saat
kita lahir di dunia, disitulah tuhan telah memberi kita kebebasan dalam memilih
tujuan hidup, dengan menyadari bahwa yang ada di dunia adalah milik-Nya akan
mengantarkan kita untuk sadar bahwa tujuan terbesar hidup di dunia bukanlah
untuk sukses belaka, namun mendapatkan seluruh Ridho-Nya dalam setiap Langkah
proses Kehidupan dan Keberhasilan Menggapai Cita-cita”
***
Suatu hari
ada seseorang mendatangi ustadz dengan niat untuk berkonsultasi
mengenai masalah ekonomi yang dideritanya, anggap saja namanya Andi, dia
meminta kepada sang ustadz untuk diberi bagaimana cara agar dapat mempermudah
rezekinya sehingga ia terbebas dari masalah perekonomian tersebut, kemudian
sang ustadz bertanya “ Bagaimana Sholatmu ?”, “maksudnya ustadz” tanya andi, “yah
sholatmu, apakah engkau telah sholat tepat waktu? Apakah engkau selalu berjama’ah?
Apakah sholat sunnah telah engkau jalani? “, sambil tersenyum kecut andi
menjawab “ belum ustadz”, “ ya sudah kamu balek aja dulu benerin tuh semuanya,
sholat yang bener dulu” pinta sang ustadz, “ Cuma itu saja ustadz” tanya andi
dengan heran, “ iya,, itu saja dulu nanti satu bulan lagi kamu datang kesini
entar saya kasih yang lain”. Setelah itu andi pun berlalu dan melaksanakan
nasehat dari sang ustadz, tepat setelah satu bulan dia datang lagi dengan raut
wajah yang berbeda dan membawakan beberapa makanan, “Assalamualaikum, Ustadz”
kata andi, “wa’alaikumsalam warohmatulloh, wah cerah banget nih wajahnya sampek
bawa makanan juga” jawab sang ustadz, andi pun bercerita bahwa setelah dia melakukan
nasehat ustadz selama satu minggu tiba-tiba ia mendapat panggilan pekerjaan
yang gajinya dua kali lipat lebih besar dari gaji terakhir saat ia bekerja dulu
dan dia sangat mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.
Sering kali
kita merajuk kepada tuhan bahwa keadaan selalu tak adil karena kita selalu
berada dalam keadaan yang tidak beruntung, kita selalu merasa menjadi orang
yang paling rugi di dunia dan mengambil kesimpulan bahwa tuhan tak menyayangi
kita, bahkan sampai ada yang berpikiran bahwa dia diciptakan hanya untuk
diterpa masalah dan menjadi orang yang selalu kalah. Apakah kita berhak
berpikir seperti itu?, saya kira ketika berpikir seperti itu malah menandakan
bahwa tak ada usaha yang dilakukan kecuali menunggu suatu keajaiban.
Coba kita
renungkan sedikit saja tentang takdir tuhan, bukankah saat pelajaran agama dulu
kita diajarkan bahwa taqdir ada dua yaitu taqdir mubram ( yang tidak dapat
dirubah) dan taqdir mu’allaq (yang dapat berubah) dan kita diwajibkan untuk
berusaha sekuat tenaga dengan ikhtiyar,Do’a dan Tawakkal untuk menjemputnya,
Sebuah taqdir yang baik tidak akan datang kepada kita kecuali kita
menjemputnya, bahkan tidak adanya sebuah usaha dengan alasan karena berserah
diri kepada Allahpun tidak dianjurkan.
Pada suatu
hari ketika Rasulullah S.A.W hendak
melaksanakan sholat dzuhur, beliau melihat salah seorang sahabat yang turun
dari untanya dan membiarkannya tampa mengikat unta tersebut pada batang pohon,
melihat kejadian tersebut kemudian beliau bertanya “wahai sahabatku, kenapa
engkau tidak mengikat untamu?”, “Aku tidak mengikat untaku karena aku telah
pasrah dan berserah diri kepada Allah atas untaku ini Ya Rasulullah, Apabila
aku akan kehilangannya maka aku akan menerimanya dengan ikhlas” jawab sahabat,
kemudian Rasulullah Bersabda “ Ikatlah untamu itu pada pohon, iktiyar dulu baru
tawakkal, apabila nanti setelah untamu di ikat dan ternyata hilang maka pasrah
dan berserah dirilah serta tulus ikhlas merelakan untamu hilang”. Kemudian sahabat
tersebut mengikat untanya pada pohonn sesuai yang disabdakan oleh Rasulullah
S.A.W.
Pantaskah
kita merajuk kepada Allah meskipun ternyata tak ada usaha dari kita untuk
menggapainya, Haruskah kita meluapkan kemarahan karena kita selalu gagal tapi
tak pernah kita mencoba untuk memperbaikinya, Benarkah kita Melaknat keadaan
atas kebodohan kita padahal kita sendiri tak ada ghiroh untuk belajar menjadi
orang yang lebih pintar, Dalam buku “Bersatu
dengan Allah” karya agus mustofa dituliskan bahwa manusia diciptakan Allah
mengikuti Fitrah-Nya, dalam penjelasan yang lebih rinci disebutkan bahwa
manusia memiliki beberapa sifat tuhan tapi yang perlu digarisbawahi disini
sifat tersebut tidak sama, karena Allah memiliki sifat yakni Berbeda dengan
Makhluk.
Bukankah
kita diberikan akal oleh Allah, salah satunya agar kita dapat berpikir sebelum
melakukan perbuatan, apakah itu baik
ataukah buruk dan bukankah akal juga dapat kita gunakan untuk menyusun sebuah
proposal hidup dan menentukan tujuan kita dalam melaksanakan proses kehidupan
selama di dunia. Selain itu kita juga memiliki kekuasaan untuk memilih nasib
kita di dunia ini, apakah kita mau baik ataukah buruk.
Seharusnya
kita harus malu karena kita terlalu pintar untuk menuntut segala kebutuhan tapi
terlalu dungu untuk melaksanakan kewajiban kita khususnya kepada tuhan, padahal
hakikatnya kewajiban kita kepada tuhan itulah wujud sebuah kebutuhan sejati
yang harus kita capai, jika kita lihat cerita andi diatas kita bisa
menyimpulkan bahwa dengan membuat diri ini mendekat kepada-Nya maka segala yang
diinginkan akan datang kepada kita dengan cepat pula, mungkin perlu kita ingat bahwa
segala yang ada di dunia ini termasuk tubuh kita merupakan milik-Nya.
Lalu apakah
kita masih pantas menghujat tuhan karena kondisi kita? Maaf Tuhan kami masih
tidak tahu diri, engkau berfirman bahwa engkau berada sangat dekat dengan kami
bahkan lebih dekat dari urat leher, namun kami memilih menjauh, kami selalu
menyalahkan taqdir tapi kami sendiri tak mau berjuang untuk menjemput taqdir.
Saya pernah
membaca sebuah cerita tentang penjual bakso, pada sore itu seorang penjual
bakso seperti biasa berkeliling disebuah perumahan untuk menjajakan daganannya,
hingga ada seseorang yang memberhentikannya untuk membeli baksonya, pada saat
membayar bakso tersebut, ia melihat bahwa penjual bakso ini membagi uang
tersebut dalam tiga tempat yang berbeda (dompet,kaleng dan laci) kemudian
karena mungkin bingung orang tersebut bertanya kepada penjual bakso, “pak
kenapa uangnya dipisahkan, apakah ada tujuan lain?”, “iya bapak, saya berjualan
selama 17 tahun dan selama itu saya memisahkan keuntungan dari hasil jualan
bakso saya pak”. Singkat cerita tujuan tukang bakso ini memisahkan
keuntungannya adalah :
- Uang yang ditaruh dalam laci beliau gunakan untuk bershodaoh atau berinfaq dan berkurban, selama 17 tahun beliau melakukan hal tersebut dengan niat agar orang lain juga merasakan nikmat yang sama dengan apa yang beliau rasakan.
- Uang yang ditaruh dalam kaleng adalah sebagai tabungan untuk melaksanakan rukun islam ke-5 yaitu berangkat menuju ke Baitullah.
- Sedangkan yang berada di dalam dompet beliau gunakn untuk kehidupan beliau sehari-hari
Mendengar jawaban
seperti itu seseorang tersebut tersentuh kemudian kembali bertanya “ iya memang
bagus....tapi bukankah ibadah haji di wajibkan hanya untuk orang yang mampu
saja pak?”, bapak penjual bakso pun menjawab “Itulah sebabnya Pak. Emang justru
malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan
hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI”
“Definisi mampu
adalah menjadi hak kebebasan kita memilih jika kita memilih bahwa kita tidak
mampu mungkin kita akan menjadi orang tidak mampu, namu jika kita
mendefinisikan bahwa diri kita mampu maka insyaAllah kitapun akan menjadi orang
yang mampu”
Sebuah
cerita yang sangat inspiratif bagi saya dan sekaligus membuat saya malu atas
pola pikir yang selama ini saya pahami, beliau memilih untuk mendefinisikan
bahwa beliau mampu disaat orang lain menempatkannya pada golongan yang tidak mampu,
dengan waktu yang selama itu beliau tetap tekun melaksanakan perintah Allah dan
tak lupa memikirkan Orang-orang disekitarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar