Sabtu, 14 Maret 2015

Aku Masih Tak Tahu Diri



“ Pada Saat kita lahir di dunia, disitulah tuhan telah memberi kita kebebasan dalam memilih tujuan hidup, dengan menyadari bahwa yang ada di dunia adalah milik-Nya akan mengantarkan kita untuk sadar bahwa tujuan terbesar hidup di dunia bukanlah untuk sukses belaka, namun mendapatkan seluruh Ridho-Nya dalam setiap Langkah proses Kehidupan dan Keberhasilan Menggapai Cita-cita”

***
 
Suatu hari ada seseorang  mendatangi  ustadz dengan niat untuk berkonsultasi mengenai masalah ekonomi yang dideritanya, anggap saja namanya Andi, dia meminta kepada sang ustadz untuk diberi bagaimana cara agar dapat mempermudah rezekinya sehingga ia terbebas dari masalah perekonomian tersebut, kemudian sang ustadz bertanya “ Bagaimana Sholatmu ?”, “maksudnya ustadz” tanya andi, “yah sholatmu, apakah engkau telah sholat tepat waktu? Apakah engkau selalu berjama’ah? Apakah sholat sunnah telah engkau jalani? “, sambil tersenyum kecut andi menjawab “ belum ustadz”, “ ya sudah kamu balek aja dulu benerin tuh semuanya, sholat yang bener dulu” pinta sang ustadz, “ Cuma itu saja ustadz” tanya andi dengan heran, “ iya,, itu saja dulu nanti satu bulan lagi kamu datang kesini entar saya kasih yang lain”. Setelah itu andi pun berlalu dan melaksanakan nasehat dari sang ustadz, tepat setelah satu bulan dia datang lagi dengan raut wajah yang berbeda dan membawakan beberapa makanan, “Assalamualaikum, Ustadz” kata andi, “wa’alaikumsalam warohmatulloh, wah cerah banget nih wajahnya sampek bawa makanan juga” jawab sang ustadz, andi pun bercerita bahwa setelah dia melakukan nasehat ustadz selama satu minggu tiba-tiba ia mendapat panggilan pekerjaan yang gajinya dua kali lipat lebih besar dari gaji terakhir saat ia bekerja dulu dan dia sangat mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepadanya.

Sering kali kita merajuk kepada tuhan bahwa keadaan selalu tak adil karena kita selalu berada dalam keadaan yang tidak beruntung, kita selalu merasa menjadi orang yang paling rugi di dunia dan mengambil kesimpulan bahwa tuhan tak menyayangi kita, bahkan sampai ada yang berpikiran bahwa dia diciptakan hanya untuk diterpa masalah dan menjadi orang yang selalu kalah. Apakah kita berhak berpikir seperti itu?, saya kira ketika berpikir seperti itu malah menandakan bahwa tak ada usaha yang dilakukan kecuali menunggu suatu keajaiban.

Coba kita renungkan sedikit saja tentang takdir tuhan, bukankah saat pelajaran agama dulu kita diajarkan bahwa taqdir ada dua yaitu taqdir mubram ( yang tidak dapat dirubah) dan taqdir mu’allaq (yang dapat berubah) dan kita diwajibkan untuk berusaha sekuat tenaga dengan ikhtiyar,Do’a dan Tawakkal untuk menjemputnya, Sebuah taqdir yang baik tidak akan datang kepada kita kecuali kita menjemputnya, bahkan tidak adanya sebuah usaha dengan alasan karena berserah diri kepada Allahpun tidak dianjurkan.

Pada suatu hari ketika Rasulullah S.A.W  hendak melaksanakan sholat dzuhur, beliau melihat salah seorang sahabat yang turun dari untanya dan membiarkannya tampa mengikat unta tersebut pada batang pohon, melihat kejadian tersebut kemudian beliau bertanya “wahai sahabatku, kenapa engkau tidak mengikat untamu?”, “Aku tidak mengikat untaku karena aku telah pasrah dan berserah diri kepada Allah atas untaku ini Ya Rasulullah, Apabila aku akan kehilangannya maka aku akan menerimanya dengan ikhlas” jawab sahabat, kemudian Rasulullah Bersabda “ Ikatlah untamu itu pada pohon, iktiyar dulu baru tawakkal, apabila nanti setelah untamu di ikat dan ternyata hilang maka pasrah dan berserah dirilah serta tulus ikhlas merelakan untamu hilang”. Kemudian sahabat tersebut mengikat untanya pada pohonn sesuai yang disabdakan oleh Rasulullah S.A.W.

Pantaskah kita merajuk kepada Allah meskipun ternyata tak ada usaha dari kita untuk menggapainya, Haruskah kita meluapkan kemarahan karena kita selalu gagal tapi tak pernah kita mencoba untuk memperbaikinya, Benarkah kita Melaknat keadaan atas kebodohan kita padahal kita sendiri tak ada ghiroh untuk belajar menjadi orang yang lebih pintar, Dalam buku “Bersatu dengan Allah” karya agus mustofa dituliskan bahwa manusia diciptakan Allah mengikuti Fitrah-Nya, dalam penjelasan yang lebih rinci disebutkan bahwa manusia memiliki beberapa sifat tuhan tapi yang perlu digarisbawahi disini sifat tersebut tidak sama, karena Allah memiliki sifat yakni Berbeda dengan Makhluk.

Bukankah kita diberikan akal oleh Allah, salah satunya agar kita dapat berpikir sebelum melakukan perbuatan,  apakah itu baik ataukah buruk dan bukankah akal juga dapat kita gunakan untuk menyusun sebuah proposal hidup dan menentukan tujuan kita dalam melaksanakan proses kehidupan selama di dunia. Selain itu kita juga memiliki kekuasaan untuk memilih nasib kita di dunia ini, apakah kita mau baik ataukah buruk.

Seharusnya kita harus malu karena kita terlalu pintar untuk menuntut segala kebutuhan tapi terlalu dungu untuk melaksanakan kewajiban kita khususnya kepada tuhan, padahal hakikatnya kewajiban kita kepada tuhan itulah wujud sebuah kebutuhan sejati yang harus kita capai, jika kita lihat cerita andi diatas kita bisa menyimpulkan bahwa dengan membuat diri ini mendekat kepada-Nya maka segala yang diinginkan akan datang kepada kita dengan cepat pula, mungkin perlu kita ingat bahwa segala yang ada di dunia ini termasuk tubuh kita merupakan milik-Nya.

Lalu apakah kita masih pantas menghujat tuhan karena kondisi kita? Maaf Tuhan kami masih tidak tahu diri, engkau berfirman bahwa engkau berada sangat dekat dengan kami bahkan lebih dekat dari urat leher, namun kami memilih menjauh, kami selalu menyalahkan taqdir tapi kami sendiri tak mau berjuang untuk menjemput taqdir.

Saya pernah membaca sebuah cerita tentang penjual bakso, pada sore itu seorang penjual bakso seperti biasa berkeliling disebuah perumahan untuk menjajakan daganannya, hingga ada seseorang yang memberhentikannya untuk membeli baksonya, pada saat membayar bakso tersebut, ia melihat bahwa penjual bakso ini membagi uang tersebut dalam tiga tempat yang berbeda (dompet,kaleng dan laci) kemudian karena mungkin bingung orang tersebut bertanya kepada penjual bakso, “pak kenapa uangnya dipisahkan, apakah ada tujuan lain?”, “iya bapak, saya berjualan selama 17 tahun dan selama itu saya memisahkan keuntungan dari hasil jualan bakso saya pak”. Singkat cerita tujuan tukang bakso ini memisahkan keuntungannya adalah :

  • Uang yang ditaruh dalam laci beliau gunakan untuk bershodaoh atau berinfaq dan berkurban, selama 17 tahun beliau melakukan hal tersebut dengan niat agar orang lain juga merasakan nikmat yang sama dengan apa yang beliau rasakan.
  • Uang yang ditaruh dalam kaleng adalah sebagai tabungan untuk melaksanakan rukun islam ke-5 yaitu berangkat menuju ke Baitullah.
  • Sedangkan yang berada di dalam dompet beliau gunakn untuk kehidupan beliau sehari-hari

Mendengar jawaban seperti itu seseorang tersebut tersentuh kemudian kembali bertanya “ iya memang bagus....tapi bukankah ibadah haji di wajibkan hanya untuk orang yang mampu saja pak?”, bapak penjual bakso pun menjawab “Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI”

“Definisi mampu adalah menjadi hak kebebasan kita memilih jika kita memilih bahwa kita tidak mampu mungkin kita akan menjadi orang tidak mampu, namu jika kita mendefinisikan bahwa diri kita mampu maka insyaAllah kitapun akan menjadi orang yang mampu”

Sebuah cerita yang sangat inspiratif bagi saya dan sekaligus membuat saya malu atas pola pikir yang selama ini saya pahami, beliau memilih untuk mendefinisikan bahwa beliau mampu disaat orang lain menempatkannya pada golongan yang tidak mampu, dengan waktu yang selama itu beliau tetap tekun melaksanakan perintah Allah dan tak lupa memikirkan Orang-orang disekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar