Pada saat
itu sang ayah dan ibu kaget, dosa apa yang telah mereka perbuat hingga anaknya
lahir dengan keadaan (maaf) cacat tubuhnya, dokter menyebutnya dengan penyakit
tetra-amelia yang sangat langka, namun mereka tetap mencoba bersabar dan
menyayanginya tanpa mencoba melihat kekurangan yang dimiliki anaknya. Saat umur
6 tahun orang tuanya memasukkan ke sekolah biasa, dan sang anak melihat bahwa
dirinya sangat berbeda, ejekan dan cemoohan sering ia terima karena
ketidaksempurnaannya sehingga ia frustasi dan hampir memilih untuk mengakhiri
hidupnya, hingga di suatu pagi saat ia
bangun membuat sang anak berpikir bahwa seharusnya ia bersyukur karena telah
diberi kesehatan,dan keluarga yang sangat menyayanginya. Ketika ia sedang
membaca koran dengan ibunya, tiba-tiba matanya terfokuskan dengan artikel yang
menceritakan tentang orang cacat yang mampu menolong dan mebahagiakan orang
lain, dari artikel itulah dia mulai berubah dan memiliki semangat baru bahwa
keterbatasan bukanlah hambatan, Yah nama sang anak ini adalah Nick Vujicic. Sekarang
dia adalah seorang motivator internasional yang kurang lebih telah mengisi
acara motivasi di 24 negara dan telah diikuti oleh berjuta-juta orang serta
membuat mereka memiliki tujuan dan semangat hidup yang baru dalam menjalani
rangkaian proses kehidupan.
Secara
tidak sadar sebagian besar dari kita selalu menghujat dan menyalahkan kehidupan
ketika diberi suatu masalah yang membuat kita stress dan tidak tenang, bahkan
terkadang ada beberapa kejadian yang disebabkan oleh masalah dia lebih memilih
untuk mengakhiri hidupnya ( na’udzubillah),
hal tersebut tentunya merupakan suatu pemikiran yang salah apalagi sampai
memilih untuk mengakhiri hidup sungguh pilihan yang merugikan.
Setiap
orang tentunya akan memiliki masalah yang berbeda dalam hidupnya, masalah tersebut
hadir dengan tujuan agar kita belajar dalam mengatasi masalah bukan malah lari,
mendekatkan diri kepada Tuhan dengan bersujud diatas sajadah dan menangis
dengan memohon kekuatan dan kesabaran serta petunjuk untuk menghadapi masalah
yang sedang terjadi.
Dengan memilih
mencoba untuk mendekatkan diri, InsyaAllah akan menghindarkan kita dari keputusan
menekatkan diri yang tak menghasilkan suatu jalan keluar tapi malah membuat
dosa lain, akan sangat tidak nyaman tentunya ketika kita sudah punya masalah
dapat dosa juga, bagai jatuh tertimpa tangga, seperti itulah peribahasanya.
Mungkin
kita harus mencoba untuk merubah pola pikir kita tentang memaknai sebuah
kehidupan seperti seorang Nick vujicic, keterbatasannya itu memang sempat
hampir membuat dia untuk berpikir mengakhiri hidupnya tapi hal itu tidak
terjadi dan akhirnya dia mendapatkan sebuah pola pikir yang baru dalam
mengartikan kehidupan, dia bangkit dan menegaskan bahwa keterbatasan bukanlah
hambatan untuk mencapai kebahagiaan tapi pemikiran yang selalu menuju
kekelemahanlah yang telah membuat kekuatan kita tertutupi.
Kebahagiaan
bukanlah sesuatu hal yang bisa dicapai dengan utuhnya kesempurnaan atau
banyaknya materi yang kita dapat, karena kebahagiaan adalah benda abstrak yang
hanya bisa dirasa dan tak berwujud dalam sebuah visual. Kebahagiaan tak hanya hadir ketika kita
berhasil tapi disaat proses ikhtiyarpun kadang kebahagiaan itu datang untuk
menghibur kita.
Seperti
ketika mendaki gunung (meskipun saya
sendiri belum pernah se hehehe), setiap pendaki dalam proses pendakian menuju
puncak pasti akan merasakan rasa penat dan lelah tapi rasa itu dapat dihapuskan
dengan pemandangan yang dapat dinikmati disela perjalanan, yah mungkin seperti
itulah analoginya.
Cukuplah
kita Mengutuk kehidupan karena sebuah kegagalan yang dialami, karena seyogyanya
meningkatkan kualitas diri dan lebih berhati-hati adalah cara yang paling tepat
untuk menyelesaikan permasalahan, tak perlulah kita meronta-ronta dan
marah-marah dalam zona kegelapan bukankah lebih baik kita diam dan segera
mengambil lilin untuk penerangan, agar suatu jalan baru bisa kita lalui, sehingga
kita menjadi pribadi yang telah lolos dari satu ujian dan tetap menilai hal
indah tentang kehidupan.
Seorang anak laki-laki sedang melihat neneknya menulis, karena
penasaran tentang kegiatan sang nenek akhinya anak laki-laki bertanya “nenek
menulis apa, nenek menulis tentang aku ya?”
Sang nenek menjawab “ iya, nenek sedang menulis tentang kamu tapi
ada hal yang lebih penting dibanding kata-kata ini, yaitu pensil yang akan
nenek gunakan, nenek berharap supaya kamu bisa seperti pensil ini”
Dengan wajah heran sang anak laki-laki pun bertanya “ bukankah
pensil itu sama seperti yang lain?”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala
sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil
menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”
Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi
jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita
menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan
kehendak-Nya.
Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil
ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh
lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa
penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu
orang yang lebih baik.
Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan
penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti,
tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita
jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian
luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan
selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu
pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan
dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal
tersebut dalam setiap tindakanmu.
Ketika Masalah datang merundung, usahakanlah hati juga tak ikut
mendung agar pikiran tak sampai jatuh pada dalamnya palung. Setiap manusia di
dunia pasti memiliki masalah yang berbeda dan beragam level kesulitannya, maka
dari itu saat kita mendapatkan masalah, berusahalah untuk melihatnya dari
berbagai sudut pandang, karena siapa tau ternyata teman-teman atau orang
disekitar kita memiliki masalah yang sama atau jauh lebih besar, lihatlah
mereka yang masih bisa tersenyum saat masalah datang melanda, contohlah mereka
agar pikiran yang selama ini menuju hal pesimis berganti menjadi optimis dan
selalu bersyukur kepada Tuhan.
Hidup
itu indah...
Jika
kita tak berhenti dalam melangkah...
Hidup
itu indah...
Jika
sang raga telah beribadah dipelataran ka’bah...
Hidup
itu indah...
Jika
kita menolak untuk menjadi lemah...
Cobaan
akan selalu menghantui...
Untuk
menggoda pribadi agar saling mendengki...
Tantangan
akan selalu menghadang...
Dan
akan hilang jika semangat selalu dihunus bagaikan pedang...
Hambatan
akan menjadi teman...
Maka
jangan menyerah untuk memanfaatkan kesempatan...
Berhentilah
dan janganlah Menyalahkan kehidupan...
Yang
kau anggap sebagai salah satu biang kegagalan...
Namun
Carilah dan nyalakan sang lilin harapan...
Agar
semangat terjaga dan lebih banyak belajar dari Pengalaman...
Hidup
itu indah...
Jika
kita mau mensyukuri segala nikmat...
Hidup
itu Indah...
Jika
kita menjauhi sebuah sifat untuk melaknat...
Hidup
itu indah...
Jika
Setiap Malam ada do’a yang selalu terpanjat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar