Tulisan ini
tidak bermaksud menggurui, ini hanyalah kegundahan, batu hantam pemikiran dan
ketidaktenangan hati, yang menulis hanyalah manusia tanpa warna, menginjakkan
kaki kemana-mana hanya untuk mengais ilmu untuk mengusir kebodohan, manusia
yang memiliki impian untuk mencapai keabadian dengan tulisan.
Perbedaan adalah
hal mutlak, karena perbedaan saling menghormati menjadi sebuah kewajiban. Dulu
saat disekolah dasar, guru selalu mengajarkan muridnya agar hafal 5 asas dan
dasar Negara kita yaitu pancasila. Masih ingatkan sila ke 2 dan 3? Kemanusiaan
yang adil dan beradab dan persatuan Indonesia. Ada kata adab dan satu disana.
Kata yang memiliki hubungan erat dengan perbedaan.
Fenomena media
sosial semakin mewabah tak terkecuali saya yang begitu senangnya memegangi
benda kotak itu, berselancar pengetahuan baru serasa tanpa tepi. Fakta unik,
berita menarik, ilmu, bahkan berita terkinipun tersedia dalam satu genggaman
tangan.
Berjuta-juta
manusia aktif dan berinteraksi dengan teknologi ini, namun tak selamanya yang
manis selalu nikmat begitu juga media ini. Sehingga tertulis kalimat “mereka
yang merasa dirinya sempurna”, alasan dibalik kalimat itu hanyalah karena
munculnya kegundahan dan ketidaktenangan karena semakin samarnya kata “beradab”
dan “bersatu”.
Berbeda pendapat
adalah hal wajar tetapi jika sudah sampai menghujat itu sudah bukan tentang
kebebasan berpendapat tetapi ini masalah menjaga akhlak. Begitu mudah
menghujat, mengfitnah, berucap kata kotor. Apakah mereka lupa cara
berkomunikasi? Apakah mereka lupa bahwa masing-masing manusia memiliki hati?
Bukankah pendapat yang dibungkus dengan hujatan pasti akan dilemparkan
kembali?. Hingga akhirnya dari kegundahan mencuatkan pertanyaan “ mereka sedang
mencari kebenaran apa kepuasan”. Untuk
mereka yang merasa dirinya sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar