Selasa, 22 November 2016

Mereka yang merasa dirinya sempurna



Tulisan ini tidak bermaksud menggurui, ini hanyalah kegundahan, batu hantam pemikiran dan ketidaktenangan hati, yang menulis hanyalah manusia tanpa warna, menginjakkan kaki kemana-mana hanya untuk mengais ilmu untuk mengusir kebodohan, manusia yang memiliki impian untuk mencapai keabadian dengan tulisan.

Perbedaan adalah hal mutlak, karena perbedaan saling menghormati menjadi sebuah kewajiban. Dulu saat disekolah dasar, guru selalu mengajarkan muridnya agar hafal 5 asas dan dasar Negara kita yaitu pancasila. Masih ingatkan sila ke 2 dan 3? Kemanusiaan yang adil dan beradab dan persatuan Indonesia. Ada kata adab dan satu disana. Kata yang memiliki hubungan erat dengan perbedaan.

Fenomena media sosial semakin mewabah tak terkecuali saya yang begitu senangnya memegangi benda kotak itu, berselancar pengetahuan baru serasa tanpa tepi. Fakta unik, berita menarik, ilmu, bahkan berita terkinipun tersedia dalam satu genggaman tangan. 

Berjuta-juta manusia aktif dan berinteraksi dengan teknologi ini, namun tak selamanya yang manis selalu nikmat begitu juga media ini. Sehingga tertulis kalimat “mereka yang merasa dirinya sempurna”, alasan dibalik kalimat itu hanyalah karena munculnya kegundahan dan ketidaktenangan karena semakin samarnya kata “beradab” dan “bersatu”.

Berbeda pendapat adalah hal wajar tetapi jika sudah sampai menghujat itu sudah bukan tentang kebebasan berpendapat tetapi ini masalah menjaga akhlak. Begitu mudah menghujat, mengfitnah, berucap kata kotor. Apakah mereka lupa cara berkomunikasi? Apakah mereka lupa bahwa masing-masing manusia memiliki hati? Bukankah pendapat yang dibungkus dengan hujatan pasti akan dilemparkan kembali?. Hingga akhirnya dari kegundahan mencuatkan pertanyaan “ mereka sedang mencari kebenaran apa kepuasan”. Untuk mereka yang merasa dirinya sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar