“ Bagaimana
Cara mencintai Allah, mas??” tanya seorang sahabat kepada saya, seketika
pikiran saya berputar dengan cepat mencari jawaban itu. Semakin keras saya
berfikir semakin sulit saya menemukan jawaban tersebut, hingga akhirnya dalam
hati saya berkata “ iya ya, selama ini aku beribadah dan aku belum merasakan
khusyu’ dalam semua ibadah tersebut selain hanya gerakan yang melunturkan
kewajiban”. Saat itu saya tak bisa menjawab pertanyaannya dan meminta agar dia
bertanya pada seseorang yang lebih tau akan hal itu.
Pertanyaan
tadi tetap terngiang dalam diri ini, bagaimana mungkin saya baru sadar, lalu
bagaimana saya mencintai-Nya dan menikmati ibadah dengan tulus sebagai
kebutuhan bukan kewajiban serta menganggap ibadah sebagai hak yang seharusnya
kita dapatkan. Mungkin selama ini kita hanya bisa meniumbulkan rasa cinta
terhadap hal-hal yang dapat dilihat nyata oleh mata, coba renungkan saat kita
mengikuti suatu pelatihan semacam ESQ, kala itu kita diberi gambaran tentang
keesaan tuhan, diingatkan tentang bagaimana kebesarannya dapat mengatur segala
sesuatu yang terlihat sangat kompleks dan jiwa kita diarahkan untuk memikirkan
segala dosa yang telah dilakukan.
Tidak hanya
itu, kita juga diingatkan kepada kasih sayang orang tua yang tulus dan segala
pengorbanan yang telah beliau berdua lakukan hingga pada saat kita duduk
mengikuti pelatihan tersebut, namun kita bisa menangis lebih keras ketika
penyaji sedang menjelaskan orang tua tapi sedikit yang menangis ketika
penjelasan tentang kebesaran dan dosa-dosa kita kepada tuhan. Kenapa bisa
seperti itu ?? mungkin salah satu jawabannya karena kita masih belum menyadari
betul akan hakikat-Nya dan belum mengetahui bagaimana cara mencintai-Nya.
Kesulitan
kita untuk merasakan cinta kepada-Nya karena kita tak berusaha untuk
mendekati-Nya , meskipun sebenarnya Allah itu dekat dan lebih dekat daripada
urat leher kita, namun selama ini
terkadang kita terlalu disibukkan dengan organisasi atau tugas-tugas
kuliah yang diberikan tanpa pengertian, ya mungkin kita sholat tapi pikiran
kita tak berada di tempat melainkan jalan-jalan kemana-mana sehingga kitapun
tak merasakan nikmat.
Berusaha
mendekatinya bukan hanya dengan sholat tapi juga dapat dilakukan dengan
membantu sesama, dengan cara sedekah ataupun mengajarkan ilmu yang telah kita
pelajari, dari hal itu semua insyaAllah jiwa kita dengan otomatis akan semakin
tentram dan dekat dengan kebaikan serta akan menuntun kita untuk selalu ingat
kepada tuhan.
Sadar bahwa
Allah adalah Dzat yang Maha melihat dan pasti mengetahui tingkah laku kita,
juga dapat membantu kita untuk lebih dekat kepada-Nya, karena kita akan merasa
selalu diawasi sehingga tumbuhlah taqwa yang dalam etimologi diartikan sebagai
takut, bukan takut untuk berlalu dan pergi tapui takut yang mencari dan
membuatmu berserah diri.
Dulu ketika
saya masih smp, saya sempat mengikuti ekskul MIPA, pada kala itu pembimbing
kami tidak mengajarkan rumus atau nama-nama ilmiah yang biasanya kami pelajari,
namun beliau memberi kami secarih kertas putih kosong dan menyuruh i untuk
menggambakan impian dan cita-cita kami tetapi dengan syarat bahwa selama kami
menggambar tidak ada seorangpun kecuali diri kita yang mengetahuinya, kamipun
bersemangat dan mencoba untuk mencari tempat persembunyian sehingga orang lain
tidak mengetahui apa yang kami gambarkan, setelah itu kami pun kembali kepada
pembimbing dengan keyakinan tidak ada orang yang tahu selain kami. Satu persatu
kami ditanya oleh beliau tentang apa yang kami gambar, namun ada seorang teman
saya yang masih membiarkan kertas putihnya kosong, kemudian pembimbing bertanya
dan dia menjawab dengan sebuah kalimat yang tak pernah kami kira sebelumnya “
Maaf Pak, saya tidak bisa menggambarkan impian saya karena dimanapun saya
bersembunyi masih ada yang melihat yaitu
Allah S.W.T”. seketika itu saya diam dan tercengang seakan tak percaya tentang
apa yang dikatakan oleh temanku itu dan tanpa sadar aku melihat bahwa
pembimbing kami tersenyum dan menjelaskan bahwa tujuan beliau menginginkan kami
menggambar cita-cita hingga tidak ada yang tau bukanlah untuk melihat seberapa
pinta kita bersembunyi atau berkonsentrasi terhadap mimpi tetapi membuat kami
sadar bahwa Tuhan maha melihat dan mengetahui dimanapun kita bersembunyi.
Lalu kawan, sekarang mari kita renungkan :
- · Apakah kita bisa lari dari pandangan-Nya?
- · Apakah kita masih akan ingkar kepada-Nya ?
- · Tidakkah kita harus mentaubati disetiap dosa yang kita lakukan?
- · BAGAIMANAKAH KITA MENCINTAI-NYA?
“Tuhan Maafkan kami yang masih tak tau diri
Tuhan Maafkan
kami yang enggan tuk berserah diri
Kami hanya
bisa pergi dan berlalu
Padahal engkau
menyuruh kami tuk beribadah selalu
Kami hanya
bisa tertawa dan berfoya-foya
Padahal engkau
mengharap kami untuk selalu berdo’a
Kami selalu
sibuk dengan urusan dunia
Padahal engkau
telah menunjukkan jalan untuk ke Surga
Tuhan Maafkan
Kami yang masih tak bisa mencintai
Tuhan Maafkan Kami yang lebih sering mengingkari
Engkau telah
berikan kami dua malaikat penjaga
Namun kami
malah bersikap sebagai anak durhaka
Engkau telah memberikan
kami kesehatan
Namun kami tak
menjaganya dan malah menjemput kesakitan
Engkau telah
memberi kami Nurani
Namun kami
tumpuk debu diatasnya dengan nafsu birahi
Tuhan maafkan
kami yang masih tak tau diri
Tuhan maafkan
kami yang masih enggan tuk berserah diri “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar