Kamis, 26 Februari 2015

Bagaimana Cara Mencintai-Mu ??



“ Bagaimana Cara mencintai Allah, mas??” tanya seorang sahabat kepada saya, seketika pikiran saya berputar dengan cepat mencari jawaban itu. Semakin keras saya berfikir semakin sulit saya menemukan jawaban tersebut, hingga akhirnya dalam hati saya berkata “ iya ya, selama ini aku beribadah dan aku belum merasakan khusyu’ dalam semua ibadah tersebut selain hanya gerakan yang melunturkan kewajiban”. Saat itu saya tak bisa menjawab pertanyaannya dan meminta agar dia bertanya pada seseorang yang lebih tau akan hal itu.

Pertanyaan tadi tetap terngiang dalam diri ini, bagaimana mungkin saya baru sadar, lalu bagaimana saya mencintai-Nya dan menikmati ibadah dengan tulus sebagai kebutuhan bukan kewajiban serta menganggap ibadah sebagai hak yang seharusnya kita dapatkan. Mungkin selama ini kita hanya bisa meniumbulkan rasa cinta terhadap hal-hal yang dapat dilihat nyata oleh mata, coba renungkan saat kita mengikuti suatu pelatihan semacam ESQ, kala itu kita diberi gambaran tentang keesaan tuhan, diingatkan tentang bagaimana kebesarannya dapat mengatur segala sesuatu yang terlihat sangat kompleks dan jiwa kita diarahkan untuk memikirkan segala dosa yang telah dilakukan.

Tidak hanya itu, kita juga diingatkan kepada kasih sayang orang tua yang tulus dan segala pengorbanan yang telah beliau berdua lakukan hingga pada saat kita duduk mengikuti pelatihan tersebut, namun kita bisa menangis lebih keras ketika penyaji sedang menjelaskan orang tua tapi sedikit yang menangis ketika penjelasan tentang kebesaran dan dosa-dosa kita kepada tuhan. Kenapa bisa seperti itu ?? mungkin salah satu jawabannya karena kita masih belum menyadari betul akan hakikat-Nya dan belum mengetahui bagaimana cara mencintai-Nya.

Kesulitan kita untuk merasakan cinta kepada-Nya karena kita tak berusaha untuk mendekati-Nya , meskipun sebenarnya Allah itu dekat dan lebih dekat daripada urat leher kita, namun selama ini  terkadang kita terlalu disibukkan dengan organisasi atau tugas-tugas kuliah yang diberikan tanpa pengertian, ya mungkin kita sholat tapi pikiran kita tak berada di tempat melainkan jalan-jalan kemana-mana sehingga kitapun tak merasakan nikmat.

Berusaha mendekatinya bukan hanya dengan sholat tapi juga dapat dilakukan dengan membantu sesama, dengan cara sedekah ataupun mengajarkan ilmu yang telah kita pelajari, dari hal itu semua insyaAllah jiwa kita dengan otomatis akan semakin tentram dan dekat dengan kebaikan serta akan menuntun kita untuk selalu ingat kepada tuhan.

Sadar bahwa Allah adalah Dzat yang Maha melihat dan pasti mengetahui tingkah laku kita, juga dapat membantu kita untuk lebih dekat kepada-Nya, karena kita akan merasa selalu diawasi sehingga tumbuhlah taqwa yang dalam etimologi diartikan sebagai takut, bukan takut untuk berlalu dan pergi tapui takut yang mencari dan membuatmu berserah diri.

Dulu ketika saya masih smp, saya sempat mengikuti ekskul MIPA, pada kala itu pembimbing kami tidak mengajarkan rumus atau nama-nama ilmiah yang biasanya kami pelajari, namun beliau memberi kami secarih kertas putih kosong dan menyuruh i untuk menggambakan impian dan cita-cita kami tetapi dengan syarat bahwa selama kami menggambar tidak ada seorangpun kecuali diri kita yang mengetahuinya, kamipun bersemangat dan mencoba untuk mencari tempat persembunyian sehingga orang lain tidak mengetahui apa yang kami gambarkan, setelah itu kami pun kembali kepada pembimbing dengan keyakinan tidak ada orang yang tahu selain kami. Satu persatu kami ditanya oleh beliau tentang apa yang kami gambar, namun ada seorang teman saya yang masih membiarkan kertas putihnya kosong, kemudian pembimbing bertanya dan dia menjawab dengan sebuah kalimat yang tak pernah kami kira sebelumnya “ Maaf Pak, saya tidak bisa menggambarkan impian saya karena dimanapun saya bersembunyi  masih ada yang melihat yaitu Allah S.W.T”. seketika itu saya diam dan tercengang seakan tak percaya tentang apa yang dikatakan oleh temanku itu dan tanpa sadar aku melihat bahwa pembimbing kami tersenyum dan menjelaskan bahwa tujuan beliau menginginkan kami menggambar cita-cita hingga tidak ada yang tau bukanlah untuk melihat seberapa pinta kita bersembunyi atau berkonsentrasi terhadap mimpi tetapi membuat kami sadar bahwa Tuhan maha melihat dan mengetahui dimanapun kita bersembunyi.

Lalu kawan, sekarang mari kita renungkan :


  • ·         Apakah kita bisa lari dari pandangan-Nya?

  • ·         Apakah kita masih akan ingkar kepada-Nya ?

  • ·         Tidakkah kita harus mentaubati disetiap dosa yang kita lakukan?

  • ·         BAGAIMANAKAH KITA MENCINTAI-NYA?



“Tuhan Maafkan kami yang masih tak tau diri
  Tuhan Maafkan kami yang enggan tuk berserah diri
  Kami hanya bisa pergi dan berlalu
  Padahal engkau menyuruh kami tuk beribadah selalu
  Kami hanya bisa tertawa dan berfoya-foya
  Padahal engkau mengharap kami untuk selalu berdo’a
  Kami selalu sibuk dengan urusan dunia
  Padahal engkau telah menunjukkan jalan untuk ke Surga
  Tuhan Maafkan Kami yang masih tak bisa mencintai
  Tuhan Maafkan Kami yang lebih sering mengingkari
  Engkau telah berikan kami dua malaikat penjaga
  Namun kami malah bersikap sebagai anak durhaka
  Engkau telah memberikan kami kesehatan
  Namun kami tak menjaganya dan malah menjemput kesakitan
  Engkau telah memberi kami Nurani
  Namun kami tumpuk debu diatasnya dengan nafsu birahi
  Tuhan maafkan kami yang masih tak tau diri
  Tuhan maafkan kami yang masih enggan tuk berserah diri “

Tidak ada komentar:

Posting Komentar