Pernah
mendengar sebuah kata yang terlontar tentang cinta yang mengatakan "Cinta
itu Buta". Sebuah kata yang pendek tetapi memberikan arti yang sangat
luas, tak terpungkiri terkadang banyak orang yang sedang mendambanya seakan
melihat hal indah di sekelilingnya bahkan dipenggalan puisi seorang husna
di film "Ketika cinta bertasbih" yang menguraikan tentang cinta :
“Menurutku, cinta adalah kekuatan yang mampu
mengubah duri jadi mawar…
mengubah cuka jadi anggur…
mengubah malang jadi untung…
mengubah sedih jadi riang…
mengubah setan jadi nabi…
mengubah iblis jadi malaikat…
mengubah sakit jadi sehat…
mengubah kikir jadi dermawan…
mengubah kandang jadi taman…
mengubah penjara jadi istana…
mengubah amarah jadi ramah…
mengubah musibah jadi muhibah…
itulah cinta!”
mengubah duri jadi mawar…
mengubah cuka jadi anggur…
mengubah malang jadi untung…
mengubah sedih jadi riang…
mengubah setan jadi nabi…
mengubah iblis jadi malaikat…
mengubah sakit jadi sehat…
mengubah kikir jadi dermawan…
mengubah kandang jadi taman…
mengubah penjara jadi istana…
mengubah amarah jadi ramah…
mengubah musibah jadi muhibah…
itulah cinta!”
Sebuah Uraian
yang begitu indah dan semakin memantapkan statement bahwa “Cinta itu buta”.
Tentunya hal seperti ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang sedang jatuh
didalamnya, merekalah yang mengerti bagaimana seluruh raga dan jiwa dimabukkan
semerbak harumnya sebuah rasa yang bernama cinta, jiwa yang semula memiliki
semangat kecil tiba tiba akan menjadi besar, energi alam seakan-akan terkumpul
didalam tubuh meski tidak sedang memakan makanan, seluruh metabolisme dalam tubuh
seakan terasa berjalan jauh lebih baik dan langsung memberi manfaat yang dapat
kita rasakan. Namun memang terkadang terdapat bebera orang khususnya para
pemuda yang mungkin tidak setuju dengan statement tersebut. Ada salah satu
kalimat yang sejenak membuat saya terkekeh bahwa “cinta itu tidak buta, dia
masih dapat membedakan supra dengan ninja”.
Hal
ini tentunya sangat bertolak belakang dengan kaidah dan hakikat cinta itu
sendiri. Kalimat tersebut seperti mensejajarkan antara cinta dengan materi, memang
benar ketika sedang merajut sebuah hubungan yang disebut pernikahan materi
merupakan salah satu faktor untuk menjaga keutuhan tapi bukan keutuhan cinta
melainkan keutuhan ekonomi, materi bukanlah sumber utama kebahagiaan. Dia hanya
menjadi salah satu dari beberapa faktor pendukung kebahagiaan. Mereka yang
selalu bersyukur akan merasa bahwa kebahagiaan selalu menaunginya dalam segala
proses hidup yang dilalui, Emha ainun najib pernah menjelaskan didalam
ceramahnya bahwa sebuah frekuensi syukur itu berbanding lurus dengan
kebahagiaan. Karena rasa syukur itu berarti seperti melihat apa yang diterimanya
merupakan nikmat sehingga meskipun menurut orang lain dia sedang menderita
tetapi berkat keikhlasan dan rasa syukur dia merasa dirinya yang paling
berbahagia.
Cinta
itu sendiri tidak dapat di sejajarkan dengan materi apalagi dicampuradukkan.
Dari segi wujudpun keduanya sangat berbeda, materi itu memiliki bentuk fisik
dan hanya terbatas pada dimensi ketiga yang hanya memiliki volume. Namun cinta
berbeda mereka merupakan sebuah kualitas atau bisa disebut juga dengan sebuah
kuantitas yang tak bermassa, cinta dapat menembus berbagai dimensi karena
perasaan cinta tak hanya terbatas pada sebuah fisik tetapi cinta bisa juga ada
sebelum keberadaan sesoranng dicintainya itu ada, salah satu contohnya adalah
cinta orang tua kepada anaknya. Sebelum kita dilahirkan atau bahkan masih
berada dalam kandungan, ayah dan ibu kita telah memiliki cinta yang sungguh
luar biasa hebatnya kepada kita. Setiap pengorbanan dan peluh keringat yang
mereka cucurkan tidak lain tidak bukan hanya untuk membuat kita aman dan sehat
didalam rahim ibu. Cinta yang paling tinggi yang kita punya adalah cinta kita
kepada Sang Maha Pencipta, dimana segala sumber cinta merupakan ciptaan-Nya dan
Dialah sumber cinta itu sendiri.
Segala
Keagungan adalah miliknya, seluruh pengetahuan dan perasaan yang kita punya
bersumber dari-Nya, oleh karena itu tiadalah suatu cinta yang patut dilabeli
sebagai cinta tertinggi melainkan cinta kepada Sang Maha Pencipta. Ketika kita
dapat membuat diri untuk Jatuh cinta kepada Sang Maha satu, maka disitulah kita
mendapatkan suatu derajat tertinggi dalam cinta. Sebuah perasaan yang dapat
menembus segala dimensi, ruang dan waktu serta dapat membuat diri ini jauh
lebih terbuai dibandingkan buaian cinta kita kepada seseorang dari jenis kita.
Seorang teman pernah menulis sebuah kalimat “ Jika wajah yang membuatmu jatuh
cinta, lalu bagaimana caramu mencintai tuhan yang tak berupa”. kata tersebut
menyadarkan kita bahwa kita bisa mencintai sesuatu yang diluar kemampuan kita.
Bukanlah
sebuah cinta ketika sang pujangga hanya memohon untuk diberi tapi tak ingin memberi.
Saat kita mencintai seseorang yang ada didalam benak kita ialah bagaimana kita
dapat membuat dia senang dan terkadang memberi segala hal itu adalah salah satu
cara yang kita lakukan entah itu perhatian, materi ataupun perasaan yang selalu
ingin berada didekatnya. Hal ini adalah kebiasaan yang sering terjadi
dikalangan para pemuda yang sedang berada dalam lingkaran cinta. Namun banyak
kejadian yang mengatasnamakan cinta mereka rela menyerahkan segala kehormatan,
mereka lupa bahwa itu terjadi karena nafsu yang berbicara bukan atas kehendak
cinta. Saat itu nurani mereka memberontak tapi apa daya sang nurani yang
bagaikan sinar matahari tertutup awan nafsu yang mendung dan menghalangi
sinarnya, kita lupa bahwa seindah-indahnya cinta, dia masih punya pagar pagar
yang mana pagar itu akan runtuh ketika kita mengikatnya dengan sebuah jalinan
cinta sejati yang dapat membuat dua hati lebih mendekatkan diri kepada Sang
Maha Pemberi. Semoga kita dijadikan golongan orang-orang yang baik dan terbenam
dalam cinta yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
aku tidak akan menggunakannya hari ini tapi suatu saat nanti
disaat memegang tanganmu adalah sebuah ibadah bukan untuk di rendah
ketika memeluk dirimu ketenangan yang hadir
bukan nafsu yang memborbardir
dan saat mencintaimu membuat kita menjadi lebih dekat kepada-Nya
bukan melainkan jadi laknat-Nya,
disaat itulah kujadikan engkau calon bidadari surgaku
disaat itulah engkau kan kulindungi dengan seluruh kewajibanku
disaat itulah aku akan terus disisimu menyeka air matamu saat kau sedih
membimbingmu,menguatkanmu,menyayangimu dengan segenap cinta
yang telah dianugerahkan Sang Maha Mencintai dan Menyayangi
kepada diri ini untuk selalu menjaga hati”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar