Jumat, 06 Februari 2015

Cinta Sebuah Kuantitas tanpa Massa


Pernah mendengar sebuah kata yang terlontar tentang cinta yang mengatakan "Cinta itu Buta". Sebuah kata yang pendek tetapi memberikan arti yang sangat luas, tak terpungkiri terkadang banyak orang yang sedang mendambanya seakan melihat hal indah di sekelilingnya  bahkan dipenggalan puisi seorang husna di film "Ketika cinta bertasbih" yang menguraikan tentang cinta :

“Menurutku, cinta adalah kekuatan yang mampu
  mengubah duri jadi mawar…
  mengubah cuka jadi anggur…
  mengubah malang jadi untung…
  mengubah sedih jadi riang…
  mengubah setan jadi nabi…
  mengubah iblis jadi malaikat…
  mengubah sakit jadi sehat…
  mengubah kikir jadi dermawan…
  mengubah kandang jadi taman…
  mengubah penjara jadi istana…
  mengubah amarah jadi ramah…
  mengubah musibah jadi muhibah…
  itulah cinta!

Sebuah Uraian yang begitu indah dan semakin memantapkan statement bahwa “Cinta itu buta”. Tentunya hal seperti ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang sedang jatuh didalamnya, merekalah yang mengerti bagaimana seluruh raga dan jiwa dimabukkan semerbak harumnya sebuah rasa yang bernama cinta, jiwa yang semula memiliki semangat kecil tiba tiba akan menjadi besar, energi alam seakan-akan terkumpul didalam tubuh meski tidak sedang memakan makanan, seluruh metabolisme dalam tubuh seakan terasa berjalan jauh lebih baik dan langsung memberi manfaat yang dapat kita rasakan. Namun memang terkadang terdapat bebera orang khususnya para pemuda yang mungkin tidak setuju dengan statement tersebut. Ada salah satu kalimat yang sejenak membuat saya terkekeh bahwa “cinta itu tidak buta, dia masih dapat membedakan supra dengan ninja”.

                Hal ini tentunya sangat bertolak belakang dengan kaidah dan hakikat cinta itu sendiri. Kalimat tersebut seperti mensejajarkan antara cinta dengan materi, memang benar ketika sedang merajut sebuah hubungan yang disebut pernikahan materi merupakan salah satu faktor untuk menjaga keutuhan tapi bukan keutuhan cinta melainkan keutuhan ekonomi, materi bukanlah sumber utama kebahagiaan. Dia hanya menjadi salah satu dari beberapa faktor pendukung kebahagiaan. Mereka yang selalu bersyukur akan merasa bahwa kebahagiaan selalu menaunginya dalam segala proses hidup yang dilalui, Emha ainun najib pernah menjelaskan didalam ceramahnya bahwa sebuah frekuensi syukur itu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Karena rasa syukur itu berarti seperti melihat apa yang diterimanya merupakan nikmat sehingga meskipun menurut orang lain dia sedang menderita tetapi berkat keikhlasan dan rasa syukur dia merasa dirinya yang paling berbahagia.

            Cinta itu sendiri tidak dapat di sejajarkan dengan materi apalagi dicampuradukkan. Dari segi wujudpun keduanya sangat berbeda, materi itu memiliki bentuk fisik dan hanya terbatas pada dimensi ketiga yang hanya memiliki volume. Namun cinta berbeda mereka merupakan sebuah kualitas atau bisa disebut juga dengan sebuah kuantitas yang tak bermassa, cinta dapat menembus berbagai dimensi karena perasaan cinta tak hanya terbatas pada sebuah fisik tetapi cinta bisa juga ada sebelum keberadaan sesoranng dicintainya itu ada, salah satu contohnya adalah cinta orang tua kepada anaknya. Sebelum kita dilahirkan atau bahkan masih berada dalam kandungan, ayah dan ibu kita telah memiliki cinta yang sungguh luar biasa hebatnya kepada kita. Setiap pengorbanan dan peluh keringat yang mereka cucurkan tidak lain tidak bukan hanya untuk membuat kita aman dan sehat didalam rahim ibu. Cinta yang paling tinggi yang kita punya adalah cinta kita kepada Sang Maha Pencipta, dimana segala sumber cinta merupakan ciptaan-Nya dan Dialah sumber cinta itu sendiri.

            Segala Keagungan adalah miliknya, seluruh pengetahuan dan perasaan yang kita punya bersumber dari-Nya, oleh karena itu tiadalah suatu cinta yang patut dilabeli sebagai cinta tertinggi melainkan cinta kepada Sang Maha Pencipta. Ketika kita dapat membuat diri untuk Jatuh cinta kepada Sang Maha satu, maka disitulah kita mendapatkan suatu derajat tertinggi dalam cinta. Sebuah perasaan yang dapat menembus segala dimensi, ruang dan waktu serta dapat membuat diri ini jauh lebih terbuai dibandingkan buaian cinta kita kepada seseorang dari jenis kita. Seorang teman pernah menulis sebuah kalimat “ Jika wajah yang membuatmu jatuh cinta, lalu bagaimana caramu mencintai tuhan yang tak berupa”. kata tersebut menyadarkan kita bahwa kita bisa mencintai sesuatu yang diluar kemampuan kita.

            Bukanlah sebuah cinta ketika sang pujangga hanya memohon untuk diberi tapi tak ingin memberi. Saat kita mencintai seseorang yang ada didalam benak kita ialah bagaimana kita dapat membuat dia senang dan terkadang memberi segala hal itu adalah salah satu cara yang kita lakukan entah itu perhatian, materi ataupun perasaan yang selalu ingin berada didekatnya. Hal ini adalah kebiasaan yang sering terjadi dikalangan para pemuda yang sedang berada dalam lingkaran cinta. Namun banyak kejadian yang mengatasnamakan cinta mereka rela menyerahkan segala kehormatan, mereka lupa bahwa itu terjadi karena nafsu yang berbicara bukan atas kehendak cinta. Saat itu nurani mereka memberontak tapi apa daya sang nurani yang bagaikan sinar matahari tertutup awan nafsu yang mendung dan menghalangi sinarnya, kita lupa bahwa seindah-indahnya cinta, dia masih punya pagar pagar yang mana pagar itu akan runtuh ketika kita mengikatnya dengan sebuah jalinan cinta sejati yang dapat membuat dua hati lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi. Semoga kita dijadikan golongan orang-orang yang baik dan terbenam dalam cinta yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.


"  Bahkan jika saja aku diberikan kuasa untuk memilikimu
   aku tidak akan menggunakannya hari ini tapi suatu saat nanti
   disaat memegang tanganmu adalah sebuah ibadah bukan untuk di rendah
   ketika memeluk dirimu ketenangan yang hadir 
   bukan nafsu yang memborbardir
   dan saat mencintaimu membuat kita menjadi lebih dekat kepada-Nya
   bukan melainkan jadi laknat-Nya,
   disaat itulah kujadikan engkau calon bidadari surgaku
   disaat itulah engkau kan kulindungi dengan seluruh kewajibanku
   disaat itulah aku akan terus disisimu menyeka air matamu saat kau sedih
   membimbingmu,menguatkanmu,menyayangimu dengan segenap cinta
   yang telah dianugerahkan Sang Maha Mencintai dan Menyayangi
   kepada diri ini untuk selalu menjaga hati”.

             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar