Indeks Prestasi, bagi yang udah dan
masih kuliah pasti paham banget arti dari kata ini. Yah sebuah hasil akhir yang
(katanya) akan mempresentasikan seberapa niat kita dalam menempuh suatu
perkuliahan. Jejeran nilai A akan membuat mata berbinar, barisan nilai B bisa
sekedar bilang “cukup deh”, Tulisan nilai C terkadang timbul kekecewaan, dan
deretan nilai D dan E menyebabkan sesak ulu hati dan bergumam “yah harus
ngulang lagi nih” hehe.
Di awal orientasi kampus sering
mahasiswa baru ditanya tujuanmu kuliah apa? Dan sungguh sangat banyak versi
jawabannya, ada yang ingin mencari ilmu, ada yang ingin sukses dan ada yang
ingin lainnya. IPK tinggi pasti membuat bangga hati menandakan betapa mahasiswa
telah berhasil menyelesaikan dengan baik entah ilmu yang ia tempuh akan terus
menempel dalam pikiran atau hilang setelah bagus dalam penilaian. Ada sebuah
kalimat menarik disebuah cover majalah salah satu organisasi ekstra kampus,
“Mahasiswa sekarang hanya ingin lulus cepat dan IPK tinggi”. Sekilas kita pasti
bertanya mahasiswa mana yang tidak mau lulus cepat dan IPK tinggi? Saya juga
mau hehe. Namun bila kita tinjau dari sisi yang lain kita akan menemukan hal
yang bisa koreksi lebih dalam bagaimana seharusnya seorang mahasiswa (tentunya
menurut versi saya hihihi).
Kuliah, kuliah dan kuliah. Seorang guru besar di kampus saya
pernah memberi nasehat bahwa sebenarnya otak manusia di design untuk fokus
dalam satu hal tetapi jangan sampai mengartikan kalau kita harus mengerjakan
satu hal saja, maksudnya adalah dalam melakukan apapun fokuslah saat melakukan
pekerjaanmu jangan memikirkan yang lain dan saat kau berganti mengerjakan yang
lain fokuslah juga pada itu jangan memikirkan yang sebelumnya. Catat nih Fokus
untuk kuliah itu SANGAT PENTING tapi dunia kampus tidak sesempit itu, ilmu itu
tidak sekecil itu bukankah Tuhan menciptakan apapun di dunia ini tidak ada yang
sia-sia agar kita bisa mengambil makna dari setiap keadaan. Bolehlah anda fokus
kuliah asal harus EXPERT tetapi kalo udah fokus masih biasa-biasa saja mungkin
ada kesalahan pada dirimu atau memang pikiranmu yang salah.
2. IPK tinggi
memuluskan kita untuk bekerja nanti
Ada sebuah guyonan seperti ini, “IPK tinggimu akan
mengantarkanmu ke meja administrasi tetapi untuk selanjutnya Kualitas dirimulah
yang menentukan” hihi tapi saya menginginkan itu dirubah jadi kalimat seperti
ini ““IPK tinggimu akan mengantarkanmu ke meja administrasi tetapi untuk
selanjutnya Kualitas dirimulah yang mengusahan dan hanya Ridho Orang Tua dan
Doamu pada Tuhanlah yang menentukan” . yapss tidak salah nih punya pemikiran
kayak gini sangat betul tapi cobalah untuk menanyakan hal ini ke semua
kakak-kakak yang sudah terjun ke dunia kerja seperti corporate,saya jadi teringat saat berdiskusi dengan seorang
Asistant Manager sebuah perusahaan ternama di Indonesia beliau bilang bahwa
sampek hari ini ijazah saya masih nganggur dirumah, “wiiihhhh kok bisa ya”
setelah dia cerita panjang lebar ternyata memang benar guyonan itu hehe,,,
Baguskan kualitas kapasitasmu jangan hanya fokus IPK namun dirimu ndag
berkembang.
3. Saya harus mempunyai IPK yang bagus karena saya disini niatnya kuliah bukan yang lain.
Nahh ini nih alasan yang paling sering saya dengar hehe,
“saya disini disuruh kuliah bukan yang lain”, siapa yang mengatakan kuliah
hanya didalam kelas berarti masih sempit pikirannya (maaf agak kasar hehe).
Coba deh kalo kita beerpikir lebih luas “kuliah” itu belajar dan belajar itu
untuk memintarkan dan mengembangkan diri, betul tidak?? Jadi tidak masalah kan
ketika kamu belajar apapun yang bisa membuat dirimu berkembang dan kapasitasmu
melejit. So jika dengan IPK cukup diatas tiga dan tidak sampai cumlaude tapi
pengalamanmu kepada hal yang lain luar biasa bukankah itu sangat bagus?? Tentu
lebih bagus lagi IPK tinggi dan pengalaman lain di luar kelas juga mantap,
waahhh menantu idaman tuh #ehhh.
4. Kuliah aja susah masak mau ikut hal lain.
Kalo yang seperti ini nih,, sepertinya harus lebih membaca
buku hehe… kita tau banyak buku yang sudah menjelaskan betapa hebatnya Allah
SWT menciptakan makhluk yang disebut manusia. Satu-satunya makhluk yang
memiliki banyak keterbatasan tetapi mampu membuat keajaiban. Saat kita mengatur
pikiran bahwa kita tidak mampu maka selamanya tidak akan mampu. Jika saja
Sultan Muhammad Al-Fatih pada umur 23 tahun mampu meruntuhkan benteng terkuat
“Konstantinopel” masak kita untuk belajar sedikit lebih banyak saja enggan untu
berani mencoba. Lagi-lagi seorang Guru besar pernah memberikan nasehat kepada
saya “Jika kamu keras pada dirimu maka dunia akan lunak padamu, namun jika kau
lunak pada dirimu maka dunia akan keras padamu”.
5. Ahh,, Males ngabisin waktu
Sebenarnya saya “no
comment” untuk kasus nomer 5 ini, namun ini hanya bisa sebagai bahan
muhasabah diri kita betapa tidak amanahnya kita terhadap Allah SWT. Diberikan
banyak kemuliaan tetapi kita malah mengerdilkan, diberi semua kebutuhan tetapi
malah dicampakkan. Jika suatu saat kita semua merasa malas, “MAKA LAWANLAH RASA
MALAS ITU SAMPAI DIA MALAS BERSAMAMU”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar