Minggu, 18 September 2016

Andai Kuliah Tanpa IPK

Indeks Prestasi, bagi yang udah dan masih kuliah pasti paham banget arti dari kata ini. Yah sebuah hasil akhir yang (katanya) akan mempresentasikan seberapa niat kita dalam menempuh suatu perkuliahan. Jejeran nilai A akan membuat mata berbinar, barisan nilai B bisa sekedar bilang “cukup deh”, Tulisan nilai C terkadang timbul kekecewaan, dan deretan nilai D dan E menyebabkan sesak ulu hati dan bergumam “yah harus ngulang lagi nih” hehe.

Di awal orientasi kampus sering mahasiswa baru ditanya tujuanmu kuliah apa? Dan sungguh sangat banyak versi jawabannya, ada yang ingin mencari ilmu, ada yang ingin sukses dan ada yang ingin lainnya. IPK tinggi pasti membuat bangga hati menandakan betapa mahasiswa telah berhasil menyelesaikan dengan baik entah ilmu yang ia tempuh akan terus menempel dalam pikiran atau hilang setelah bagus dalam penilaian. Ada sebuah kalimat menarik disebuah cover majalah salah satu organisasi ekstra kampus, “Mahasiswa sekarang hanya ingin lulus cepat dan IPK tinggi”. Sekilas kita pasti bertanya mahasiswa mana yang tidak mau lulus cepat dan IPK tinggi? Saya juga mau hehe. Namun bila kita tinjau dari sisi yang lain kita akan menemukan hal yang bisa koreksi lebih dalam bagaimana seharusnya seorang mahasiswa (tentunya menurut versi saya hihihi).

1. Saya Harus memiliki IPK tinggi jadi fokus saya hanya Kuliah, Kuliah dan Kuliah.
Kuliah, kuliah dan kuliah. Seorang guru besar di kampus saya pernah memberi nasehat bahwa sebenarnya otak manusia di design untuk fokus dalam satu hal tetapi jangan sampai mengartikan kalau kita harus mengerjakan satu hal saja, maksudnya adalah dalam melakukan apapun fokuslah saat melakukan pekerjaanmu jangan memikirkan yang lain dan saat kau berganti mengerjakan yang lain fokuslah juga pada itu jangan memikirkan yang sebelumnya. Catat nih Fokus untuk kuliah itu SANGAT PENTING tapi dunia kampus tidak sesempit itu, ilmu itu tidak sekecil itu bukankah Tuhan menciptakan apapun di dunia ini tidak ada yang sia-sia agar kita bisa mengambil makna dari setiap keadaan. Bolehlah anda fokus kuliah asal harus EXPERT tetapi kalo udah fokus masih biasa-biasa saja mungkin ada kesalahan pada dirimu atau memang pikiranmu yang salah.

2. IPK tinggi memuluskan kita untuk bekerja nanti
Ada sebuah guyonan seperti ini, “IPK tinggimu akan mengantarkanmu ke meja administrasi tetapi untuk selanjutnya Kualitas dirimulah yang menentukan” hihi tapi saya menginginkan itu dirubah jadi kalimat seperti ini ““IPK tinggimu akan mengantarkanmu ke meja administrasi tetapi untuk selanjutnya Kualitas dirimulah yang mengusahan dan hanya Ridho Orang Tua dan Doamu pada Tuhanlah yang menentukan” . yapss tidak salah nih punya pemikiran kayak gini sangat betul tapi cobalah untuk menanyakan hal ini ke semua kakak-kakak yang sudah terjun ke dunia kerja seperti corporate,saya jadi teringat saat berdiskusi dengan seorang Asistant Manager sebuah perusahaan ternama di Indonesia beliau bilang bahwa sampek hari ini ijazah saya masih nganggur dirumah, “wiiihhhh kok bisa ya” setelah dia cerita panjang lebar ternyata memang benar guyonan itu hehe,,, Baguskan kualitas kapasitasmu jangan hanya fokus IPK namun dirimu ndag berkembang.

3. Saya harus mempunyai IPK yang bagus karena saya disini niatnya kuliah bukan yang lain.
Nahh ini nih alasan yang paling sering saya dengar hehe, “saya disini disuruh kuliah bukan yang lain”, siapa yang mengatakan kuliah hanya didalam kelas berarti masih sempit pikirannya (maaf agak kasar hehe). Coba deh kalo kita beerpikir lebih luas “kuliah” itu belajar dan belajar itu untuk memintarkan dan mengembangkan diri, betul tidak?? Jadi tidak masalah kan ketika kamu belajar apapun yang bisa membuat dirimu berkembang dan kapasitasmu melejit. So jika dengan IPK cukup diatas tiga dan tidak sampai cumlaude tapi pengalamanmu kepada hal yang lain luar biasa bukankah itu sangat bagus?? Tentu lebih bagus lagi IPK tinggi dan pengalaman lain di luar kelas juga mantap, waahhh menantu idaman tuh #ehhh.

4. Kuliah aja susah masak mau ikut hal lain.
Kalo yang seperti ini nih,, sepertinya harus lebih membaca buku hehe… kita tau banyak buku yang sudah menjelaskan betapa hebatnya Allah SWT menciptakan makhluk yang disebut manusia. Satu-satunya makhluk yang memiliki banyak keterbatasan tetapi mampu membuat keajaiban. Saat kita mengatur pikiran bahwa kita tidak mampu maka selamanya tidak akan mampu. Jika saja Sultan Muhammad Al-Fatih pada umur 23 tahun mampu meruntuhkan benteng terkuat “Konstantinopel” masak kita untuk belajar sedikit lebih banyak saja enggan untu berani mencoba. Lagi-lagi seorang Guru besar pernah memberikan nasehat kepada saya “Jika kamu keras pada dirimu maka dunia akan lunak padamu, namun jika kau lunak pada dirimu maka dunia akan keras padamu”.

5. Ahh,, Males ngabisin waktu
Sebenarnya saya “no comment” untuk kasus nomer 5 ini, namun ini hanya bisa sebagai bahan muhasabah diri kita betapa tidak amanahnya kita terhadap Allah SWT. Diberikan banyak kemuliaan tetapi kita malah mengerdilkan, diberi semua kebutuhan tetapi malah dicampakkan. Jika suatu saat kita semua merasa malas, “MAKA LAWANLAH RASA MALAS ITU SAMPAI DIA MALAS BERSAMAMU”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar