Beberapa bulan terakhir kita
semua dikejutkan dengan berbagai macam pemberitaan yang melibatkan pendidik,
dan sempat membuat darah semua guru yang ada di Indonesia mendidih atas
peristiwa yang telah terjadi, mulai dari oknum guru yang dilaporkan kepada
polisi karena mencubit siswa yang tidak sholat dhuha, sampai kasus baru kemarin
yaitu tentang penganiayaan seorang wali murid kepada guru yang telah memukul
anaknya karena berkata kotor saat diingatkan.
Kata “MIRIS” mungkin sangat
cocok menilai keadaan dunia pendidikan saat ini, bahkan akibat peristiwa tersebut
banyak sekolah-sekolah harus membuat perjanjian hitam diatas putih yang berisi
pasal-pasal bahwa wali murid pada intinya harus pasrah dan menerima semua kebijakan
sekolah dan sikap guru terhadap murid dengan catatan itu semua didasari karena
suatu bentuk proses belajar dan mengajar. Bahkan ada beberapa kalimat yang
sempat terlontar agar para orang tua yang tidak sepaham dan malah menuntut guru
lebih baik untuk membawa anaknya kembali pulang dan dididik secara pribadi.
Sungguh apa yang telah terjadi
bukan hanya menimbulkan dampak kepada para guru indonesia tetapi juga membuat
para manusia dari segala latar belakang turut memberikan komentar pedas dan
menyayangkan atas apa yang telah terjadi. Saya masih ingat seseorang menuliskan
komentar seperti ini, “Kalau dulu gue pas
dihukum guru terus ngadu pada mak dan babe bukan malah dibelain tapi malah
ditambahin hehe”. Mungkin bagi generasi 80-an atau sekarang yang sudah
berumur 22 ke atas akan membandingkan kejadian tersebut dengan apa yang mereka
rasakan saat sekolah dulu, dimana jangankan hanya membantah mendongak saat
dimarahipun mereka tak sanggup.
Tentunya ini adalah tantangan
yang sangat besar, karena bagaimanapun mereka yang mungkin hari ini sedang
bermasalah atau krisis moral adalah calon pemimpin bangsa di masa depan,
merekalah yang akan menerima tongkat estafet dari para pemegang perubahan di
zaman ini, layaknya tokoh sekarang menerima tongkat estafet dari para pahlawan
kita terdahulu.” Lalu siapa yang memiliki
tanggung jawab penuh atas masalah ini?”. Hmmm siapa ya?? Pemerintah kah??
Guru?? Atau Orang Tua??.
Bagaikan anggota tubuh, disaat
tangan kita sakit semua bagian akan merasa sakit, bukan hanya tangan saja yang
merasakan, sama halnya dengan ini, semua lini mulai dari pemerintah, guru dan
orang tua harus sadar dan mengerti peran masing-masing. Tidak bisa semuanya
kita limpahkan kepada pemerintah dan tidak bisa semuanya kita limpahkan kepada
guru dan orang tua. Orang tua lebih khususnya adalah ibu merupakan madrasah
pertama bagi anak-anaknya dari sinilah pola pikir anak akan dimulai. Sebuah
penelitian menjelaskan bahwa 6 bulan pertama sejak seorang bayi dilahirkan
adalah masa penentuan dimana kita mendidik, karena pada skala waktu ini alam
bawah sadar seorang anak akan aktif sepenuhnya sehingga jika kita mendidiknya
dengan baik maka InsyaAllah kedepannya akan baik seperti mengukir tulisan
diatas batu yang sangat sulit untuk dihilangkan kecuali menghancurkannya.
Sekolah bukan tempat titipan
atau tempat yang harus bertanggung jawab dalam merubah sikap anak. Mindset
seperti ini bagi saya harus dimengerti oleh semua orang tua, memang benar tugas
seorang guru adalah mendidik bukan hanya untuk mencerdaskan tapi juga
mengajarkan kesopanan, bukan melulu soal prestasi tetapi juga budi pekerti,
Namun jangan sampai semua beban itu diberikan kepada sekolah atau guru sehingga
orang tua tidak mau tau terkait keadaan anaknya. “Pokoknya baik ndag baik urusan sekolah, kalau anak saya tetap nakal
berarti gurunya tidak becus”, nah sikap seperti ini yang menunjukkan
keegoisan dan tidak ada bentuk kerjasama. Seharusnya orang tua tidak semudah
itu melepas harus tetap ada back up dari mereka untuk anaknya sehingga tidak
terjadi hal yang saling menyalahkan.
Dulu saat saya masih sekolah
dasar, saya ditunjuk sebagai seorang ketua kelas oleh guru saya, dari situ saya
berpikir seorang ketua kelas memiliki kewajiban menjaga suasana kelas tetap
efektif dan sesuai dengan fungsinya, sehingga kala itu saya bersikap layaknya
seorang guru (sedikit alay sih hehe), bahkan saya sering menegur teman-teman
yang ramai dikelas. Saat itu kondisi sangat rame dan bukan hanya menegur, saya
sempat menjewer telinga teman saya (yah tidak terlalu keras dan bukan
penganiayaan J) dan membuat antingnya terjatuh
dan hilang akibat hal tersebut saya diminta untuk mengganti oleh orang tua
teman saya itu sebesar 7000 rupiah.Uang tersebut bagi saya yang masih madrasah
ibtidaiyah sangat besar karena uang jajan saya masih 300 rupiah hehe dan
Alhamdulillah saya bisa menggantinya dengan mengambil uang ditabungan saya.
Kejadian tersebut tidak saya ceritakan kepada siapa-siapa bahkan kedua orang
tua saya karena takut, dan mungkin teman saya menceritakan itu kepada salah
seorang guru dan akhirnya saya dibawa ke kantor dan diberi pertanyaan, sesaat
sampai rumah ternyata abah dan ibu saya masuk kekamar saya dan menanyai hal tersebut,
diluar dugaan beliau berdua memuji apa yang telah saya lakukan yaitu
menggantinya tanpa meminta kepada mereka.
Yang saya garis bawahi dari
cerita diatas adalah komunikasi yang sangat baik antara sekolah dan orang tua,
dan sejujurnya nasehat yang saya terima dari sekolah dan orang tua membuat saya
lebih tenang dan berhati-hati kedepannya.
Seperti yang saya tulis diatas
bahwa ini adalah tantangan besar, khususnya bagi mereka yang sekarang sedang
menempuh jurusan pendidikan, karena jika tujuan menjadi guru semata-mata hanya
untuk sertifikasi mungkin lebih baik melamar pekerjaan diperusahaan atau ditempat
yang lebih memberikan jaminan, namun jika memang menjadi guru dengan tujuan
untuk menumbuhkan karakter, mempertebal tabungan akhirat dan pengabdian maka
perbesarlah KAPASITAS, karena memintarkan saja tak cukup, karena mencerdaskan
saja masih belum lengkap, Negara ini tidak hanya butuh pemuda yang mendunia
atas prestasinya tetapi juga memerlukan Pemuda yang siap menjadi PENERUS BANGSA
dengan INTEGRITAS menjadi prinsipnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar