Rabu, 21 September 2016

Pendidik yang Terhardik



Beberapa bulan terakhir kita semua dikejutkan dengan berbagai macam pemberitaan yang melibatkan pendidik, dan sempat membuat darah semua guru yang ada di Indonesia mendidih atas peristiwa yang telah terjadi, mulai dari oknum guru yang dilaporkan kepada polisi karena mencubit siswa yang tidak sholat dhuha, sampai kasus baru kemarin yaitu tentang penganiayaan seorang wali murid kepada guru yang telah memukul anaknya karena berkata kotor saat diingatkan.

Kata “MIRIS” mungkin sangat cocok menilai keadaan dunia pendidikan saat ini, bahkan akibat peristiwa tersebut banyak sekolah-sekolah harus membuat perjanjian hitam diatas putih yang berisi pasal-pasal bahwa wali murid pada intinya harus pasrah dan menerima semua kebijakan sekolah dan sikap guru terhadap murid dengan catatan itu semua didasari karena suatu bentuk proses belajar dan mengajar. Bahkan ada beberapa kalimat yang sempat terlontar agar para orang tua yang tidak sepaham dan malah menuntut guru lebih baik untuk membawa anaknya kembali pulang dan dididik secara pribadi.

Sungguh apa yang telah terjadi bukan hanya menimbulkan dampak kepada para guru indonesia tetapi juga membuat para manusia dari segala latar belakang turut memberikan komentar pedas dan menyayangkan atas apa yang telah terjadi. Saya masih ingat seseorang menuliskan komentar seperti ini, “Kalau dulu gue pas dihukum guru terus ngadu pada mak dan babe bukan malah dibelain tapi malah ditambahin hehe”. Mungkin bagi generasi 80-an atau sekarang yang sudah berumur 22 ke atas akan membandingkan kejadian tersebut dengan apa yang mereka rasakan saat sekolah dulu, dimana jangankan hanya membantah mendongak saat dimarahipun mereka tak sanggup.

Tentunya ini adalah tantangan yang sangat besar, karena bagaimanapun mereka yang mungkin hari ini sedang bermasalah atau krisis moral adalah calon pemimpin bangsa di masa depan, merekalah yang akan menerima tongkat estafet dari para pemegang perubahan di zaman ini, layaknya tokoh sekarang menerima tongkat estafet dari para pahlawan kita terdahulu.” Lalu siapa yang memiliki tanggung jawab penuh atas masalah ini?”. Hmmm siapa ya?? Pemerintah kah?? Guru?? Atau Orang Tua??.

Bagaikan anggota tubuh, disaat tangan kita sakit semua bagian akan merasa sakit, bukan hanya tangan saja yang merasakan, sama halnya dengan ini, semua lini mulai dari pemerintah, guru dan orang tua harus sadar dan mengerti peran masing-masing. Tidak bisa semuanya kita limpahkan kepada pemerintah dan tidak bisa semuanya kita limpahkan kepada guru dan orang tua. Orang tua lebih khususnya adalah ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya dari sinilah pola pikir anak akan dimulai. Sebuah penelitian menjelaskan bahwa 6 bulan pertama sejak seorang bayi dilahirkan adalah masa penentuan dimana kita mendidik, karena pada skala waktu ini alam bawah sadar seorang anak akan aktif sepenuhnya sehingga jika kita mendidiknya dengan baik maka InsyaAllah kedepannya akan baik seperti mengukir tulisan diatas batu yang sangat sulit untuk dihilangkan kecuali menghancurkannya.

Sekolah bukan tempat titipan atau tempat yang harus bertanggung jawab dalam merubah sikap anak. Mindset seperti ini bagi saya harus dimengerti oleh semua orang tua, memang benar tugas seorang guru adalah mendidik bukan hanya untuk mencerdaskan tapi juga mengajarkan kesopanan, bukan melulu soal prestasi tetapi juga budi pekerti, Namun jangan sampai semua beban itu diberikan kepada sekolah atau guru sehingga orang tua tidak mau tau terkait keadaan anaknya. “Pokoknya baik ndag baik urusan sekolah, kalau anak saya tetap nakal berarti gurunya tidak becus”, nah sikap seperti ini yang menunjukkan keegoisan dan tidak ada bentuk kerjasama. Seharusnya orang tua tidak semudah itu melepas harus tetap ada back up dari mereka untuk anaknya sehingga tidak terjadi hal yang saling menyalahkan.

Dulu saat saya masih sekolah dasar, saya ditunjuk sebagai seorang ketua kelas oleh guru saya, dari situ saya berpikir seorang ketua kelas memiliki kewajiban menjaga suasana kelas tetap efektif dan sesuai dengan fungsinya, sehingga kala itu saya bersikap layaknya seorang guru (sedikit alay sih hehe), bahkan saya sering menegur teman-teman yang ramai dikelas. Saat itu kondisi sangat rame dan bukan hanya menegur, saya sempat menjewer telinga teman saya (yah tidak terlalu keras dan bukan penganiayaan J) dan membuat antingnya terjatuh dan hilang akibat hal tersebut saya diminta untuk mengganti oleh orang tua teman saya itu sebesar 7000 rupiah.Uang tersebut bagi saya yang masih madrasah ibtidaiyah sangat besar karena uang jajan saya masih 300 rupiah hehe dan Alhamdulillah saya bisa menggantinya dengan mengambil uang ditabungan saya. Kejadian tersebut tidak saya ceritakan kepada siapa-siapa bahkan kedua orang tua saya karena takut, dan mungkin teman saya menceritakan itu kepada salah seorang guru dan akhirnya saya dibawa ke kantor dan diberi pertanyaan, sesaat sampai rumah ternyata abah dan ibu saya masuk kekamar saya dan menanyai hal tersebut, diluar dugaan beliau berdua memuji apa yang telah saya lakukan yaitu menggantinya tanpa meminta kepada mereka.

Yang saya garis bawahi dari cerita diatas adalah komunikasi yang sangat baik antara sekolah dan orang tua, dan sejujurnya nasehat yang saya terima dari sekolah dan orang tua membuat saya lebih tenang dan berhati-hati kedepannya.

Seperti yang saya tulis diatas bahwa ini adalah tantangan besar, khususnya bagi mereka yang sekarang sedang menempuh jurusan pendidikan, karena jika tujuan menjadi guru semata-mata hanya untuk sertifikasi mungkin lebih baik melamar pekerjaan diperusahaan atau ditempat yang lebih memberikan jaminan, namun jika memang menjadi guru dengan tujuan untuk menumbuhkan karakter, mempertebal tabungan akhirat dan pengabdian maka perbesarlah KAPASITAS, karena memintarkan saja tak cukup, karena mencerdaskan saja masih belum lengkap, Negara ini tidak hanya butuh pemuda yang mendunia atas prestasinya tetapi juga memerlukan Pemuda yang siap menjadi PENERUS BANGSA dengan INTEGRITAS menjadi prinsipnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar