Kamis, 06 Oktober 2016

BERKONTEMPLASI DENGAN KEBIASAAN DIRI



“Musuh terbesar kita adalah diri sendiri”, kawan-kawan mungkin pernah mendengar pernyataan ini entah dari mana. Sebuah pernyataan mungkin yang sedikit absurd jika hanya ditelan mentah-mentah, sebuah pernyataan yang membutuhkan pemahaman lebih dalam untuk mengetahui maknanya, sebuha pernyataan yang akan menggiring kita untuk bertanya, “kenapa diri sendiri? Apakah ada masalah pada diriku? Toh selama ini aku ya tetap berusaha dan berjalan dalam kebaikan?”. Yah meskipun semua orang tidak akan bertanya sedetail itu tetapi minimal mereka mempertanyakan tentang diri mereka sendiri. 

Hal ini bukan keeegoisan, karena merenung dan menyendiri adalah hal yang diperlukan oleh seseorang untuk sekedar berintrospeksi dan berkontemplasi tentang siapa diri kita sebenarnya. Saya pribadi pada tahun 2012 kala awal saya masuk kuliah ketika ditanya apa tujuan kuliah maka jawabannya adalah membahagiakan kedua orang tua, menjadi orang sukses dan mencari ilmu. Apakah ada yang salah dengan jawaban saya? pastinya tidak karena semua itu adalah hal baik dan diimpikan oleh banyak orang. Namun percayakah anda bahwa bisa saja ini adalah jawaban pelindung karena mereka sebenarnya tidak tau harus menjawab apa atau lebih tepatnya mereka tidak tau tujuannya sendiri. Hal ini saya buktikan dengan bertanya pada peserta disetiap memiliki sesi untuk mengisi di sebuah acara. Saya selalu menunjuk secara acak peserta dan bertanya satu hal yang sama “Apa tujuan anda kuliah” dan sesuai dengan prediksi jawaban mereka tidak lepas dari ketiga jawaban pelindung tadi dan ada juga beberapa yang lebih memilih diam atau menjawab tidak tau.

Bagi beberapa orang tidak bisa menjawab terkait tujuan diri sendiri mungkin hal yang biasa dan tidak perlu difikirkan berlarut-larut, namun jika kita mau berfikir mendalam tentunya kita bisa menemukan kefatalan cara berfikir kita. Coba bayangkan saja selama ini kita semua melakukan segala aktivitas dan kegiatan yang menguras waktu dan tenaga tetapi kita tidak memiliki tujuan sehingga yang kita lakukan hanyalah sebagai penggugur kewajiban bukan langkah yang akan mendekatkan pada target. Membiarkan keadaan mengambil alih diri kita samahalnya dengan mengambil jalan kehidupan mengalir seperti air, tanpa arah tanpa tujuan dan mau ditempatkan dimana saja.

Setuju atau tidaknya kalian dengan pendapat yang saya utarakan diatas itu terserah kawan-kawan, namun mari kita merenung sejenak apakah kita sudah memiliki tujuan? Apakah kita sudah menyiapkan bagaimana cara menggapai tujuan itu? Apa saja usaha yang telah dilakukan agar lebih dekat dengan tujuan tersebut?. Atau selama ini yang kita lakukan hanyalah berjalan tanpa arah, mencoba menyibukkan diri sendiri tetapi sedikit manfaat diperoleh.

Pada saat saya kuliah, saya sering di doktrin oleh senior bahwa jangan habiskan waktu kuliahmu hanya didalam kelas saja, ikutlah organisasi, serap semua ilmunya karena suatu saat ilmu itu akan diperlukan disaat sudah menanggalkan statusmu sebagai mahasiswa. Memang benar seseorang yang kuliah tidak sepantasnya membatasi dirinya untuk kuliah sehingga menutup diri dari pelajaran-pelajaran lain yang bisa didapatkan di luar kelas. Saya tidak mempermasalahkan mahasiswa yang aktif dan mau belajar di luar kelas atau mahasiswa yang hanya fokus pada kuliahnya dan tidak mau belajar hal lain selain itu. Tidak ada yang perlu dibenarkan atau disalahkan, jika ada hal yang paling penting adalah adanya esensi serta tujuan dari setiap tindakan yang dia pilih.

Percuma kita paham akan manfaat organisasi atau hal lain di luar kelas tetapi saat mengikutinya hanyalah berdasarkan ajakan senior atau ingin terlihat keren atau dengan alasan “karena saya menyukai organisasi”, menyukai sesuatu saja tidak bisa saya jamin bahwa dia memiliki tujuan tentang hal yang ia sukai. Maka hal yang paling penting dalam tindakan adalah alasan dan tujuan kita memilih jalan tersebut. Karena bagi saya dengan adanya tujuan itu sama seperti kita telah membuat jalan terang dan kita tau harus lewat jalan yang mana.

So, untuk kawan-kawan semua coba cari tujuanmu, target-targetmu dan langkahmu dalam menggapai tujuan itu. Jangan jadi orang yang mengekor dengan keadaan karena seyogyanya manusialah yang harus mengendalikan keadaan bukan sebaliknya. Allah telah memberi segudang kekuatan tentunya akan sangat malu jika kita malah mendustakannya dengan keterbatasan. Tiap orang diciptakan berbeda dengan ciri khas yang berbeda. Kenali dirimu sendiri sebelum kau ingin mengenal orang lain lebih jauh. SELAMAT BERKONTEMPLASI J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar