“Musuh terbesar kita adalah diri sendiri”,
kawan-kawan mungkin pernah mendengar pernyataan ini entah dari mana. Sebuah
pernyataan mungkin yang sedikit absurd jika hanya ditelan mentah-mentah, sebuah
pernyataan yang membutuhkan pemahaman lebih dalam untuk mengetahui maknanya,
sebuha pernyataan yang akan menggiring kita untuk bertanya, “kenapa diri
sendiri? Apakah ada masalah pada diriku? Toh selama ini aku ya tetap berusaha
dan berjalan dalam kebaikan?”. Yah meskipun semua orang tidak akan bertanya sedetail
itu tetapi minimal mereka mempertanyakan tentang diri mereka sendiri.
Hal ini bukan keeegoisan, karena merenung dan
menyendiri adalah hal yang diperlukan oleh seseorang untuk sekedar
berintrospeksi dan berkontemplasi tentang siapa diri kita sebenarnya. Saya pribadi
pada tahun 2012 kala awal saya masuk kuliah ketika ditanya apa tujuan kuliah
maka jawabannya adalah membahagiakan kedua orang tua, menjadi orang sukses dan
mencari ilmu. Apakah ada yang salah dengan jawaban saya? pastinya tidak karena
semua itu adalah hal baik dan diimpikan oleh banyak orang. Namun percayakah
anda bahwa bisa saja ini adalah jawaban pelindung karena mereka sebenarnya
tidak tau harus menjawab apa atau lebih tepatnya mereka tidak tau tujuannya
sendiri. Hal ini saya buktikan dengan bertanya pada peserta disetiap memiliki
sesi untuk mengisi di sebuah acara. Saya selalu menunjuk secara acak peserta
dan bertanya satu hal yang sama “Apa tujuan anda kuliah” dan sesuai dengan
prediksi jawaban mereka tidak lepas dari ketiga jawaban pelindung tadi dan ada
juga beberapa yang lebih memilih diam atau menjawab tidak tau.
Bagi beberapa orang tidak bisa menjawab terkait
tujuan diri sendiri mungkin hal yang biasa dan tidak perlu difikirkan berlarut-larut,
namun jika kita mau berfikir mendalam tentunya kita bisa menemukan kefatalan
cara berfikir kita. Coba bayangkan saja selama ini kita semua melakukan segala
aktivitas dan kegiatan yang menguras waktu dan tenaga tetapi kita tidak
memiliki tujuan sehingga yang kita lakukan hanyalah sebagai penggugur kewajiban
bukan langkah yang akan mendekatkan pada target. Membiarkan keadaan mengambil
alih diri kita samahalnya dengan mengambil jalan kehidupan mengalir seperti
air, tanpa arah tanpa tujuan dan mau ditempatkan dimana saja.
Setuju atau tidaknya kalian dengan pendapat yang
saya utarakan diatas itu terserah kawan-kawan, namun mari kita merenung sejenak
apakah kita sudah memiliki tujuan? Apakah kita sudah menyiapkan bagaimana cara
menggapai tujuan itu? Apa saja usaha yang telah dilakukan agar lebih dekat
dengan tujuan tersebut?. Atau selama ini yang kita lakukan hanyalah berjalan
tanpa arah, mencoba menyibukkan diri sendiri tetapi sedikit manfaat diperoleh.
Pada saat saya kuliah, saya sering di doktrin oleh
senior bahwa jangan habiskan waktu kuliahmu hanya didalam kelas saja, ikutlah
organisasi, serap semua ilmunya karena suatu saat ilmu itu akan diperlukan
disaat sudah menanggalkan statusmu sebagai mahasiswa. Memang benar seseorang
yang kuliah tidak sepantasnya membatasi dirinya untuk kuliah sehingga menutup diri
dari pelajaran-pelajaran lain yang bisa didapatkan di luar kelas. Saya tidak
mempermasalahkan mahasiswa yang aktif dan mau belajar di luar kelas atau
mahasiswa yang hanya fokus pada kuliahnya dan tidak mau belajar hal lain selain
itu. Tidak ada yang perlu dibenarkan atau disalahkan, jika ada hal yang paling
penting adalah adanya esensi serta tujuan dari setiap tindakan yang dia pilih.
Percuma kita paham akan manfaat organisasi atau hal
lain di luar kelas tetapi saat mengikutinya hanyalah berdasarkan ajakan senior
atau ingin terlihat keren atau dengan alasan “karena saya menyukai organisasi”,
menyukai sesuatu saja tidak bisa saya jamin bahwa dia memiliki tujuan tentang
hal yang ia sukai. Maka hal yang paling penting dalam tindakan adalah alasan
dan tujuan kita memilih jalan tersebut. Karena bagi saya dengan adanya tujuan
itu sama seperti kita telah membuat jalan terang dan kita tau harus lewat jalan
yang mana.
So, untuk kawan-kawan semua coba cari tujuanmu,
target-targetmu dan langkahmu dalam menggapai tujuan itu. Jangan jadi orang
yang mengekor dengan keadaan karena seyogyanya manusialah yang harus
mengendalikan keadaan bukan sebaliknya. Allah telah memberi segudang kekuatan
tentunya akan sangat malu jika kita malah mendustakannya dengan keterbatasan. Tiap
orang diciptakan berbeda dengan ciri khas yang berbeda. Kenali dirimu sendiri
sebelum kau ingin mengenal orang lain lebih jauh. SELAMAT BERKONTEMPLASI J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar