“Engkau Sarjana
Muda..
Resah tak dapat kerja
Mengandalkan Ijazahmu..
Empat tahun lamanya..
Bergelut dengan buku,, sia-sia semuanya”
Begitulah kurang lebih lirik lagu iwan fals yang
berjudul sarjana muda, lagu yang diciptakan pada zaman 80-an ini masih sangat
bisa dirasakan hingga hari ini. Tanggal 9 oktober 2016 saya dan teman-teman
akhirnya mengakhiri masa empat tahun kuliah, masa empat tahun ditempa dengan
buku-buku, jurnal-jurnal, lalu lalang organisasi, ceramah-ceramah keilmuan,
nilai-nilai IP, coretan-coretan skripsi dari dosen pembimbing, begitu cepat
rasanya waktu berlalu jika telah tiba di masa penghujung. Acara wisuda yang
penuh khidmat ditandai dengan ikrar prestisius sebagai tanda telah
ditanggalkannya gelar mahasiswa dan menyandang gelar alumni atau sejatinya
kembali menyandang gelar rakyat biasa. Senyuman demi senyuman selalu tergurat
pada wajah-wajah para wisudawan, layaknya orang yang menghirup nafas lega
setelah berlelah-lelah bekerja. Foto sana foto sini, hadiah dan bunga-bunga
juga banyak yang menghampiri menambah suasana gembira, satu hari yang dirasakan
bagaikan sebuah puncak keberhasilan. Hingga akhirnya mereka kembali pulang dan
bertanya pada diri sendiri, yeahh aku telah wisuda, lalu bagaimana?.
Ada yang menghadiri job fair kemana-mana, memasukkan
segala atribut dan perlengkapan administrasi berharap akan ada panggilan untuk
tes selanjutnya. Alur yang seperti ini sudah hampir seperti rantai makanan.
Pemikiran ini sudah sepantasnya mendapat apresiasi karena munculnya ideologi
tersebut karena mereka merasa bahwa tanggung jawab mereka telah semakin besar,
belum lagi omongan tetangga yang mungkin sebelum wisuda selalu Tanya “kapan
selesai kuliahnya”, setelah wisuda pun akan bertanya “udah dapat kerja dimana”
dan bahkan ketika pekerjaan sudah ada pasti akan kembali ditanya “mana calonnya
kok gag dibawa?”, mau tidak mau, suka tidak suka itulah kenyataannya dan kita
haruslah menjadi seseorang yang tangguh hingga tidak mudah menggalau dengan
keadaan yah bisa dibilang tidak berpihak pada kita.
Bagi saya pribadi wisuda itu bagaikan sedang mendaki
gunung, seorang pendaki akan dengan tegas mengatakan bahwa tujuan utama mereka
bukanlah puncak tetapi rumah, puncak hanyalah salah satu pemberhentian dimana kita
merasakan keindahan setelah mengalami lelahnya pendakian, dari puncak kita
melihat semuanya begitu kecil sehingga sangat mudah untuk digenggam, saat
dipuncak terkesan melihat pemandangan yang begitu fenomemal tanpa kecacatan,
namun bukan itu realitanya setelah dipuncak kita pun harus kembali turun,
melihat bentuk yang sebenarnya dari tiap titik pemandangan indah tadi sehingga
kita akan memahami bahwa masih banyak sesuatu yang harus dilakukan dan masih
terlalu cepat untuk tertawa dan menganggap diri kita berhasil.
Mungkin beberapa tahun lalu orang dengan gelar
dibelakang namanya adalah hal yg luar biasa, namun hari ini banyak orang dengan
gelar tinggi dibelakang namanya tetapi ia bukan siapa-siapa dan tidak bisa
melakukan apa-apa. Sebagian orang berkata bahwa yang paling penting dalam
kehidupan nyata adalah relasi, jika relasimu luas maka keberhasilan akan sangat
mudah kita dapat seperti melukis dengan kuas, bagaimana?? Kalian sependapat??.
Yah mungkin memang benar adanya meskipun ada beberpa hal yang harus kita garis
bawahi. Ada tiga hal yang terpenting yang perlu kita punya dan terapkan.
Pertama adalah kompetensi, menurut saya banyak relasi tapi nol kompetensi sama
saja dengan bunuh diri karena seseorang itu membutuhkan kemampuan, mungkin
relasi akan memudahkan kita dalam menjalan urusan tapi kompetensi yang akan
menjaga kita untuk mempertahankan apa yang sudah kita dapat. Kedua adalah
relasi, tidak bisa dipungkiri faktor ini menjadi salah satu yang paling
berpengaruh, namun ingat ini bukanlah faktor penentu karena seperti yang sudah
saya sampaikan bahwa relasi hanyalah salah satu cara untuk memudahkan urusan
ingat ya “salah satu” tetapi juga
jangan diremehkan hehe. Ketiga adalah Interaksi, mungkin dari kedua lainnya ini
adalah penentu tapi dengan catatan interaksinya bukan dengan manusia tapi
dengan dzat yang menciptakan manusia, seperti ucapan ust Yusuf Mansur, “lo mau
ape, rumah, mobil, jodoh. Udah jangan galau dulu coba kembali pada Allah,
bilang dulu pada Allah. Dia yang punya segalanya masak malah kita taruh di
akhir”. Nomer tiga ini memang sering kita lupakan dan lalaikan. Ya Allah
maafkan kami jika selama ini kami terlau menuhankan relasi, maafkan kami yang
terlalu bangga dengan kompetensi kami padahal sesungguhnya engkaulah Maha
pemilik segalanya, engkaulah yang Maha Kaya, engkaulah yang Maha pemberi Rizki,
Ampuni kami ya Allah. Kuatkanlah pundak kami dalam melaksanakan berbagai
urusan, berikan kami kesempatan untuk membahagiakan kedua malaikat kami ya
Allah. Mudahkanlah jalan rizki kami, dan Tunjukkanlah kami petunjuk disaat kami
kehilangan arah. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar