Senin, 10 Oktober 2016

SARJANA MUDA



“Engkau Sarjana Muda..
  Resah tak dapat kerja
  Mengandalkan Ijazahmu..
  Empat tahun lamanya..
  Bergelut dengan buku,, sia-sia semuanya”

Begitulah kurang lebih lirik lagu iwan fals yang berjudul sarjana muda, lagu yang diciptakan pada zaman 80-an ini masih sangat bisa dirasakan hingga hari ini. Tanggal 9 oktober 2016 saya dan teman-teman akhirnya mengakhiri masa empat tahun kuliah, masa empat tahun ditempa dengan buku-buku, jurnal-jurnal, lalu lalang organisasi, ceramah-ceramah keilmuan, nilai-nilai IP, coretan-coretan skripsi dari dosen pembimbing, begitu cepat rasanya waktu berlalu jika telah tiba di masa penghujung. Acara wisuda yang penuh khidmat ditandai dengan ikrar prestisius sebagai tanda telah ditanggalkannya gelar mahasiswa dan menyandang gelar alumni atau sejatinya kembali menyandang gelar rakyat biasa. Senyuman demi senyuman selalu tergurat pada wajah-wajah para wisudawan, layaknya orang yang menghirup nafas lega setelah berlelah-lelah bekerja. Foto sana foto sini, hadiah dan bunga-bunga juga banyak yang menghampiri menambah suasana gembira, satu hari yang dirasakan bagaikan sebuah puncak keberhasilan. Hingga akhirnya mereka kembali pulang dan bertanya pada diri sendiri, yeahh aku telah wisuda, lalu bagaimana?.

Ada yang menghadiri job fair kemana-mana, memasukkan segala atribut dan perlengkapan administrasi berharap akan ada panggilan untuk tes selanjutnya. Alur yang seperti ini sudah hampir seperti rantai makanan. Pemikiran ini sudah sepantasnya mendapat apresiasi karena munculnya ideologi tersebut karena mereka merasa bahwa tanggung jawab mereka telah semakin besar, belum lagi omongan tetangga yang mungkin sebelum wisuda selalu Tanya “kapan selesai kuliahnya”, setelah wisuda pun akan bertanya “udah dapat kerja dimana” dan bahkan ketika pekerjaan sudah ada pasti akan kembali ditanya “mana calonnya kok gag dibawa?”, mau tidak mau, suka tidak suka itulah kenyataannya dan kita haruslah menjadi seseorang yang tangguh hingga tidak mudah menggalau dengan keadaan yah bisa dibilang tidak berpihak pada kita.

Bagi saya pribadi wisuda itu bagaikan sedang mendaki gunung, seorang pendaki akan dengan tegas mengatakan bahwa tujuan utama mereka bukanlah puncak tetapi rumah, puncak hanyalah salah satu pemberhentian dimana kita merasakan keindahan setelah mengalami lelahnya pendakian, dari puncak kita melihat semuanya begitu kecil sehingga sangat mudah untuk digenggam, saat dipuncak terkesan melihat pemandangan yang begitu fenomemal tanpa kecacatan, namun bukan itu realitanya setelah dipuncak kita pun harus kembali turun, melihat bentuk yang sebenarnya dari tiap titik pemandangan indah tadi sehingga kita akan memahami bahwa masih banyak sesuatu yang harus dilakukan dan masih terlalu cepat untuk tertawa dan menganggap diri kita berhasil.

Mungkin beberapa tahun lalu orang dengan gelar dibelakang namanya adalah hal yg luar biasa, namun hari ini banyak orang dengan gelar tinggi dibelakang namanya tetapi ia bukan siapa-siapa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Sebagian orang berkata bahwa yang paling penting dalam kehidupan nyata adalah relasi, jika relasimu luas maka keberhasilan akan sangat mudah kita dapat seperti melukis dengan kuas, bagaimana?? Kalian sependapat??. Yah mungkin memang benar adanya meskipun ada beberpa hal yang harus kita garis bawahi. Ada tiga hal yang terpenting yang perlu kita punya dan terapkan. Pertama adalah kompetensi, menurut saya banyak relasi tapi nol kompetensi sama saja dengan bunuh diri karena seseorang itu membutuhkan kemampuan, mungkin relasi akan memudahkan kita dalam menjalan urusan tapi kompetensi yang akan menjaga kita untuk mempertahankan apa yang sudah kita dapat. Kedua adalah relasi, tidak bisa dipungkiri faktor ini menjadi salah satu yang paling berpengaruh, namun ingat ini bukanlah faktor penentu karena seperti yang sudah saya sampaikan bahwa relasi hanyalah salah satu cara untuk memudahkan urusan ingat ya “salah satu” tetapi juga jangan diremehkan hehe. Ketiga adalah Interaksi, mungkin dari kedua lainnya ini adalah penentu tapi dengan catatan interaksinya bukan dengan manusia tapi dengan dzat yang menciptakan manusia, seperti ucapan ust Yusuf Mansur, “lo mau ape, rumah, mobil, jodoh. Udah jangan galau dulu coba kembali pada Allah, bilang dulu pada Allah. Dia yang punya segalanya masak malah kita taruh di akhir”. Nomer tiga ini memang sering kita lupakan dan lalaikan. Ya Allah maafkan kami jika selama ini kami terlau menuhankan relasi, maafkan kami yang terlalu bangga dengan kompetensi kami padahal sesungguhnya engkaulah Maha pemilik segalanya, engkaulah yang Maha Kaya, engkaulah yang Maha pemberi Rizki, Ampuni kami ya Allah. Kuatkanlah pundak kami dalam melaksanakan berbagai urusan, berikan kami kesempatan untuk membahagiakan kedua malaikat kami ya Allah. Mudahkanlah jalan rizki kami, dan Tunjukkanlah kami petunjuk disaat kami kehilangan arah. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar