Tertulis sebuah Kisah Penuh hikmah. Dikisahkan ada
seorang pemuda yang sedang kelaparan menemukan sebuah apel yang hanyut di
aliran sungai, sang pemuda pun mengambilnya setelah menimbang-nimbang cukup
lama, akhirnya pemuda inipun memakannya. Saat apel ini tinggal setengah dia
berpikir kenapa melakukan hal ini, ia merasa menyesal dan takut terhadap apa
yang telah dilakukannya. Dengan kegundahan yang ia rasakan lalu dia
mengazzamkan dirinya untuk pergi menemui sang pemilik buah apel ini guna
meminta izin dan memohon keridhoan atas setengah apel yang sudah ia makan.
Pemuda ini menyusuri sungai cukup jauh, hingga
akhirnya setelah sekian lama ia melihat pohon apel dengan buah yang mirip
seperti buah ditangannya. Kemudian pemuda ini bertanya kepada seseorang yang
berada dilingkungan tersebut untuk menunjukkan dimana rumah sang pemilik apel
ini. Singkat cerita ia pun bercerita dan mengucapkan hal apa yang membuat dia
datang menemui sang pemilik apel tersebut.
Sang pemilikpun berkata ia akan mengikhlaskan
setengah apel tersebut jika pemuda ini mau menerima syarat dari pemilik. Karena
rasa takutnya terhadap barang haram yang masuk ditubuhnya, ia pun menyanggupi
apapun syarat yang akan diberikan oleh pemilik. Dan dia memberi syarat kepada
pemuda untuk menikahi anaknya. Anaknya pemilik buat ini ternyata adalah gadis
yang cacat begitu katanya, ia tidak punya mata, telinga, mulut, tangan dan
kaki.
Mendengar ucapan sang pemilik membuat pemuda ini
mempertimbangkan kembali terhadap syarat yang diberikan, tetapi karena dasar rasa
takutnya kepada Allah melebihi apapun, ia pun mau untuk menikah dan menerima
apa adanya. Setelah menikah kemudian ia dipersilahkan untuk melihat
pendampingya di ruangannya. Namun apa yang terjadi, di dalam ruangan itu tidak
ada gadis yang diceritakan oleh sang pemilik akhirnya ia pun keluar dan
bertanya siapa gadis itu, sang pemilik pun berkata “dia adalah anakku, dia
tidak punya telinga maksudnya telinganya tidak pernah digunakan untuk menguping
pembicaraan orang lain, dia tidak punya mata karena matanya tidak pernah
sedikitpun melihat apa yang telah dilarang, dia tidak punya mulut karena mulut
anak ini terjaga untuk tidak ghibah. Dia tidak punya tangan karena kedua
tangannya tidak pernah ia gunakan kecuali untuk berdzikir dan menengadah dalam
doanya, dan dia tidak punya kaki karena langkah kakinya tak pernah ia jatuhkan
pada kegiatan maksiat tetapi hanya untuk kebaikan.
Mendengar cerita ini memang selalu membuat saya
tertegun dan kembali merenung tentang konsep memperbaiki diri dan memantaskan
diri, tak perlu dielakkan lagi jika setiap orang pasti memiliki kriteria, pasti
memiliki harapan dan punya keinginan untuk mendapatkan. Dari kisah ini kita
belajar bagaimana harus mendapatkan seseorang yang baik agar bisa menjadi
pasangan.
Pasangan yang baik akan ditemukan bukan dengan cara
dicari tetapi dengan cara memperbaiki diri, mencintai seseorang merupakan
sebuah kewajaran, karena cinta adalah satu dari sejuta kenikmatan yang telah ia
titipkan pada hati. Mungkin kita menyayanginya, mungkin kita ingin melindunginya
tetapi sebelum itu semua coba tanyakan pada diri kita sendiri. Siapa kita?
Sudah pantaskah? Sudah siapkah? Mereka yang menjalani tanpa ada kata pasti
adalah sebenar-benarnya tindakan yang tak berani.
Sering kau berada dekat denganku tetapi aku mengagumimu
dari jarak jauh, dari langkah yang aku tak ingin orang-orang mengetahui
bagaimana kekagumanku itu. Mereka mungkin berkata padaku bahwa kamu adalah
perempuan dengan paras yang menawan, memiliki ikatan pertemanan yang sarat akan
kesetiaan dan tingkah laku yang berada diatas kata sopan.
Kesederhanaan itu yang aku liat, mencoba mengagumimu
dari sisi yang lain, ingin melihat segala kekurangan yang kau miliki tetapi
bukan bertujuan untuk mencari alasan dimana aku harus menolaknya, namun mencari
jawaban di titik mana aku harus bisa mencintaimu apa adanya. Meskipun aku
meyakini bahwa untuk menjalin hubungan itu bukan tentang menerima apa adanya
tetapi menjadi sebaik-baiknya.
Banyak kawan yang mengatakan aku pecundang, pengecut
atau hanya omong besar. Yah aku tau mungkin mereka geregetan melihatku hanya
diam tanpa berani mengungkapkan apa yang sekarang dirasakan. Mungkin benar
bahwa seorang perempuan membutuhkan kejelasan tetapi yang jauh lebih penting
bagiku, perempuan itu perlu kepastian.
Sangat mudah saja untuk mengungkapkan perasaan,
namun setelah itu bagaimana kita menjalankan. Seperti kata kurniawan gunadi
bahwa mencintaimu itu bukan tentang keberanian atau kesempatan tetapi tentang
ketaqwaan, seperti tulisan azhar nurun ala, “menjauh untuk menjaga, sebenarnya
aku membenci kalimat itu”.
Akhirnya aku hanya menginginkan untuk mencintaimu
dengan cara yang benar, menyayangimu secara tulus, melindungimu secara tegas.
Namun, aku menginginkan itu semua dengan iringan ridho Tuhanku. Yang aku
impikan, kau adalah sebenar-benarnya penyempurna bukan yang menimbulkan petaka.
Dan aku sadar untuk mendapatkan itu semua ada jalan yang harus dicapai, ada
langkah yang harus dilewati dan ada perjuangan yang harus dihadapi.
Meski disisi lain, diri ini tidak bisa berjanji
bahwa engkaulah nanti sang penggenap hati. Tuhanlah yang memiliki peran
terpenting. Kita hanya bisa berdoa dan terus memperbaiki diri. Mungkin suatu
saat nanti kau bukanlah jawaban dari semua harapan tetapi mungkin juga kisah
ini akan menjadi kisah laksana Nabi Yusuf dan Zulaikha, ketika nabi yusuf
menjauhi zulaikha untuk memilih Allah. Allah pun mendekatkannya dengan zulaikha
didalam satu ikatan yang selamanya akan diirningi oleh ridho-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar