Minggu, 30 Oktober 2016

Kala Dosa Tidak Ada



22 tahun aku hidup, 22 tahun aku Engkau beri kesempatan bernafas, dan 22 tahun pula Engkau selalu memberiku kenikmatan. Berjalan menyusuri takdir-Mu, bermacam hal yang telah kurasa, mulai dari kesenangan, kesedihan, kemarahan, dan kehampaan. Sering ku bertanya pada diri ini “mengapa harus seperti ini?”, “Kenapa aku harus hidup”, “kenapa aku harus berjuang”. Yang aku pahami dunia itu keras, mereka yang tak mau bertarung akan gugur dengan sendirinya, mereka yang tak mau keras pada dirinya maka lingkungan yang akan membinasakannya. Lalu aku banyak melihat bagaimana segala cara digunakan hanya untuk bisa menunggangi keadaan, mengapa harus banyak yang dikorbankan demi diri sendiri agar memperoleh ketenangan.

Ya Allah, Engkau telah membuat aturan tetapi kami terlalu sering melanggarnya, Engkau perintahkan kami ini dan itu tetapi nafsu kami mendorong untuk meninggalkannya, Engkau jelaskan segala mara bahaya yang haram bahkan Engkau berikan kami akal untuk bisa mempertimbangkannya tetapi kami malah menjadi hamba yang bangga akan kebodohannya. Akupun berfikir JIKA DOSA ITU TIDAK ADA, BAGAIMANA KITA AKAN MENJALANI KEHIDUPAN DI DUNIA?

Disaat kami tau apa yang kami lakukan itu melanggar dan berdosa, dengan ringannya berkata bahwa umur kami masih panjang dan Engkau pasti menerima taubat kami. Ketika kami paham bahwa yang dijalani bukan dosa yang kecil, lucunya kami membanggakannya dan bercerita pada teman sepermainan. Itu kami lakukan tatkala kami mengetahui  jika hal tersebut berdosa. LALU BAGAIMANA JIKA DOSA ITU TIDAK ADA?.

Seperti pemuda pada umumnya, aku pun adalah pemuda yang selalu memegang impiannya, berharap suatu saat impian itu tercapai dan terlihat oleh semua orang. Namun kali ini aku pun sejenak berhenti melihat lagi impian itu, tulisan itu, harapan itu dan doa-doa itu. Yahhh semuanya tertuju pada duniamu yang fana ini, semua yang tertulis hanyalah impian saat aku hidup, semua yang kubaca hanyalah jaminan bagaimana aku tenang di dunia-Mu, padahal aku telah mengetahui bahwa kehidupan yang sebenarnya bukanlah dunia tetapi setelahnya. Yang kutakutkan bukanlah impian akhiratku belum tertulis tetapi Engkau yang tak mengizinkan aku berfikir untuk menulis impian akhiratku. Semua ini aku lakukan tatkala aku tau bahwa  setelah meninggal amal dan dosaku akan dihisab. LALU BAGAIMANA JIKA DOSA ITU TIDAK ADA?.

Kami sering melihat manusia yang menangis saat mereka mendengar firman-Mu dibacakan, kami sering mendengar ucapan mereka yang bergetar kala mendengar firman-Mu dilantunkan, kami sering menngetahui mereka yang dengan segala keterbatasan tetapi memiliki pemahaman yang kuat tentang ayat suci-Mu. Namun kami takut tatkala Engkau buat hati kami ini kaku, tak bergetar sedikitpun saat ada suara indah lantunan firman itu dibacakan, tak keluar air mata saat kami tundukkan kening kami dipelataran sajadah, bahkan tak diperkenankan untuk sekedar membuka dan membaca Kitab yang sempurna dengan segala Isinya. Semua ini kami lakukan tatkala kami tau bahwa  membacanya adalah petunjuk agar kami tak terjerumus dengan dosa.  LALU BAGAIMANA JIKA DOSA ITU TIDAK ADA?.

Kami hanya memohon untuk selalu diberi kesempatan berbuat baik, diberi kesempatan untuk selalu mengingat bahwa misi kami sebenarnya adalah menjadi manusia yang bermanfaat. Sehingga kami tidak terlahir sebagai manusia yang hanya memiliki ambisi pribadi tanpa memikirkan kehidupan disekeliling kami. Lunakkan hati kami untuk selalu bergetar mendengar namamu, menangis haru dalam setiap sujud dan manusia yang memiliki visi tidak hanya bertumpu pada duniawi tetapi juga kehidupan setelah kami mati nanti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar