22 tahun aku hidup, 22 tahun aku Engkau beri
kesempatan bernafas, dan 22 tahun pula Engkau selalu memberiku kenikmatan.
Berjalan menyusuri takdir-Mu, bermacam hal yang telah kurasa, mulai dari
kesenangan, kesedihan, kemarahan, dan kehampaan. Sering ku bertanya pada diri
ini “mengapa harus seperti ini?”, “Kenapa aku harus hidup”, “kenapa aku harus
berjuang”. Yang aku pahami dunia itu keras, mereka yang tak mau bertarung akan
gugur dengan sendirinya, mereka yang tak mau keras pada dirinya maka lingkungan
yang akan membinasakannya. Lalu aku banyak melihat bagaimana segala cara
digunakan hanya untuk bisa menunggangi keadaan, mengapa harus banyak yang
dikorbankan demi diri sendiri agar memperoleh ketenangan.
Ya Allah, Engkau telah membuat aturan tetapi kami terlalu
sering melanggarnya, Engkau perintahkan kami ini dan itu tetapi nafsu kami
mendorong untuk meninggalkannya, Engkau jelaskan segala mara bahaya yang haram
bahkan Engkau berikan kami akal untuk bisa mempertimbangkannya tetapi kami
malah menjadi hamba yang bangga akan kebodohannya. Akupun berfikir JIKA DOSA ITU TIDAK ADA, BAGAIMANA KITA
AKAN MENJALANI KEHIDUPAN DI DUNIA?
Disaat kami tau apa yang kami lakukan itu melanggar
dan berdosa, dengan ringannya berkata bahwa umur kami masih panjang dan Engkau
pasti menerima taubat kami. Ketika kami paham bahwa yang dijalani bukan dosa
yang kecil, lucunya kami membanggakannya dan bercerita pada teman sepermainan.
Itu kami lakukan tatkala kami mengetahui
jika hal tersebut berdosa. LALU
BAGAIMANA JIKA DOSA ITU TIDAK ADA?.
Seperti pemuda pada umumnya, aku pun adalah pemuda
yang selalu memegang impiannya, berharap suatu saat impian itu tercapai dan
terlihat oleh semua orang. Namun kali ini aku pun sejenak berhenti melihat lagi
impian itu, tulisan itu, harapan itu dan doa-doa itu. Yahhh semuanya tertuju
pada duniamu yang fana ini, semua yang tertulis hanyalah impian saat aku hidup,
semua yang kubaca hanyalah jaminan bagaimana aku tenang di dunia-Mu, padahal
aku telah mengetahui bahwa kehidupan yang sebenarnya bukanlah dunia tetapi
setelahnya. Yang kutakutkan bukanlah impian akhiratku belum tertulis tetapi
Engkau yang tak mengizinkan aku berfikir untuk menulis impian akhiratku. Semua
ini aku lakukan tatkala aku tau bahwa
setelah meninggal amal dan dosaku akan dihisab. LALU BAGAIMANA JIKA DOSA ITU TIDAK ADA?.
Kami sering melihat manusia yang menangis saat
mereka mendengar firman-Mu dibacakan, kami sering mendengar ucapan mereka yang
bergetar kala mendengar firman-Mu dilantunkan, kami sering menngetahui mereka
yang dengan segala keterbatasan tetapi memiliki pemahaman yang kuat tentang
ayat suci-Mu. Namun kami takut tatkala Engkau buat hati kami ini kaku, tak
bergetar sedikitpun saat ada suara indah lantunan firman itu dibacakan, tak
keluar air mata saat kami tundukkan kening kami dipelataran sajadah, bahkan tak
diperkenankan untuk sekedar membuka dan membaca Kitab yang sempurna dengan
segala Isinya. Semua ini kami lakukan tatkala kami tau bahwa membacanya adalah petunjuk agar kami tak terjerumus
dengan dosa. LALU BAGAIMANA JIKA DOSA ITU TIDAK ADA?.
Kami hanya memohon untuk selalu diberi kesempatan
berbuat baik, diberi kesempatan untuk selalu mengingat bahwa misi kami
sebenarnya adalah menjadi manusia yang bermanfaat. Sehingga kami tidak terlahir
sebagai manusia yang hanya memiliki ambisi pribadi tanpa memikirkan kehidupan
disekeliling kami. Lunakkan hati kami untuk selalu bergetar mendengar namamu,
menangis haru dalam setiap sujud dan manusia yang memiliki visi tidak hanya
bertumpu pada duniawi tetapi juga kehidupan setelah kami mati nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar