Jumat, 14 Oktober 2016

Kepada Hati Itu..



“Kepada Hati itu.. Aku terlena
  Dimana kau berada,,aku terbawa..
  Kepada hati itu,,ku terus mencoba..
  Dimana kau berada..engkau milik-Nya”
  (Letto,Kepada Hati itu)

Saat cinta mulai menghiasi, hati akan beririh dalam berdesir menahan segala rasa empati dan simpati demi menjaga keutuhan pribadi. Membahas masalah cinta tak kan habis dalam satu kata atau sebuah untaian cerita. Masing-masing pribadi mempunyai definisi, masing-masing pribadi juga memiliki cerita tersendiri. Saya tergerak untuk kembali menuliskannya (lagi) tentang kata yang bahkan setelah kita merasakannya berkali-kali, terkadang kita masih bingung untuk sekedar memberi arti.

Penggalan lagu diatas adalah satu dari berjuta nada, satu dari berjuta alunan yang menggambarkan sebagian kecil dari rasa yang banyak orang bilang bertumpu pada hati. Dari lirik itu saya merasa ada makna tersendiri yaitu mulai dari bagaimana proses kita terpaut pada seseorang, lalu berusaha untuk merealisasikan tanpa membuang keyakinan bahwasanya siapa saja orang yang kita tuju, seutuhnya mereka tetaplah milik Sang Pencipta.

Menuliskan keindahan cinta tak akan ada batasnya, mengutarakan rasa sedihnya juga tak bisa dijabarkan secara merata. Bagaimana tidak kala seseorang sudah jatuh cinta hal yang selama ini di luar logika bisa menjadi nyata, semua hal yang tabu akan sangat mungkin untuk dituju. Merasakannya menjadikan manusia bagaikan budak yang selalu mengiyakan apa kata hati, jika ia tidak pandai mengaturnya maka sungguhlah berat memikulnya.

Mengungkapkan, mengharap balasan, bercengkerama dengan nyaman tak pelak akan menjadi impian bagi setiap insan. Sehingga waktu akan sayang bila dilewatkan tanpa memikirkan. Lalu bagaimana dengan mereka yang tak mampu berkata, bagaimana mereka yang hanya bisa menyimpan? Sebagian orang mungkin akan beropini bahwa yang dilakukan itu hanyalah sebuah tindakan tak berani, saya tak mau menilai karena tidak ada yang tau apa sebenarnya maksud hati.

Bagi saya cara untuk menunjukkan rasa itu tidak ada batasnya, mungkin saja mereka yang selama ini bungkam, diam-diam selalu bangun di setiap malamnya dan selalu bersujud di akhir sholatnya serta tak perna lupa menyebut nama harapannya kepada Tuhan. Bukankah ini sebuah romantisme yang berbeda, dia mencinta dalam sunyi, namun di dalam sepi ia tak benar-benar sendiri karena dia serius bercengkerama dengan Dzat yang Maha pemilik hati.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar