“Kepada Hati itu.. Aku terlena
Dimana kau
berada,,aku terbawa..
Kepada hati
itu,,ku terus mencoba..
Dimana kau
berada..engkau milik-Nya”
(Letto,Kepada Hati itu)
Saat cinta mulai menghiasi, hati akan beririh dalam
berdesir menahan segala rasa empati dan simpati demi menjaga keutuhan pribadi. Membahas
masalah cinta tak kan habis dalam satu kata atau sebuah untaian cerita.
Masing-masing pribadi mempunyai definisi, masing-masing pribadi juga memiliki
cerita tersendiri. Saya tergerak untuk kembali menuliskannya (lagi) tentang
kata yang bahkan setelah kita merasakannya berkali-kali, terkadang kita masih
bingung untuk sekedar memberi arti.
Penggalan lagu diatas adalah satu dari berjuta nada,
satu dari berjuta alunan yang menggambarkan sebagian kecil dari rasa yang
banyak orang bilang bertumpu pada hati. Dari lirik itu saya merasa ada makna
tersendiri yaitu mulai dari bagaimana proses kita terpaut pada seseorang, lalu
berusaha untuk merealisasikan tanpa membuang keyakinan bahwasanya siapa saja
orang yang kita tuju, seutuhnya mereka tetaplah milik Sang Pencipta.
Menuliskan keindahan cinta tak akan ada batasnya,
mengutarakan rasa sedihnya juga tak bisa dijabarkan secara merata. Bagaimana
tidak kala seseorang sudah jatuh cinta hal yang selama ini di luar logika bisa
menjadi nyata, semua hal yang tabu akan sangat mungkin untuk dituju.
Merasakannya menjadikan manusia bagaikan budak yang selalu mengiyakan apa kata
hati, jika ia tidak pandai mengaturnya maka sungguhlah berat memikulnya.
Mengungkapkan, mengharap balasan, bercengkerama
dengan nyaman tak pelak akan menjadi impian bagi setiap insan. Sehingga waktu
akan sayang bila dilewatkan tanpa memikirkan. Lalu bagaimana dengan mereka yang
tak mampu berkata, bagaimana mereka yang hanya bisa menyimpan? Sebagian orang
mungkin akan beropini bahwa yang dilakukan itu hanyalah sebuah tindakan tak
berani, saya tak mau menilai karena tidak ada yang tau apa sebenarnya maksud
hati.
Bagi saya cara untuk menunjukkan rasa itu tidak ada
batasnya, mungkin saja mereka yang selama ini bungkam, diam-diam selalu bangun
di setiap malamnya dan selalu bersujud di akhir sholatnya serta tak perna lupa
menyebut nama harapannya kepada Tuhan. Bukankah ini sebuah romantisme yang
berbeda, dia mencinta dalam sunyi, namun di dalam sepi ia tak benar-benar
sendiri karena dia serius bercengkerama dengan Dzat yang Maha pemilik hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar